Kamis, 15 Maret 2012

Menciptakan Surga

Ini pemikiran yang saya dapat ketika mengikuti kuliah Sosiologi Agama. Maaf kalau mengganggu keimanan, dan mungkin agak berpemikiran sekuler. Tapi bukan berarti saya tidak beragama. Saya tetap berdoa dengan cara saya sendiri kepada Tuhan yang sama dengan Tuhan yang kamu tujukan doanya.

Kuliahnya adalah tentang teori-teori dari para pemikir sosial. Bagaimana cara pandang mereka terhadap agama. Empat raksasa-raksasa teori sosial : Auguste Comte, Emile Durkheim, Max Weber dan Karl Marx punya cara pandang yang berbeda mengenai agama. Karl Marx tentang agama itu candu dan Max Weber tentang etika protestan mungkin yang paling terkenal. Tapi saya paling tertarik pandangan Auguste Comte terhadap apakah itu agama, khususnya mengenai hidup kekal.

Dalam salah satu bagian dari pemikirannya, Comte berpendapat bahwa kehidupan kekal itu adalah hidup dalam kenangan. Seorang itu bisa saja meninggal, mati raganya tapi kebanyakan akan tetap hidup dalam kenangan orang-orang di sekitarnya.

Kemudian saya mencoba menghubung-hubungkan dengan konsep surga dan neraka yang selalu dijelaskan secara imajinatif. Surga tempat yang nyaman di awan ke tujuh, pakaian serba putih dengan pintu gerbang emas besar yang dijaga oleh seorang kudus, tempat di mana orang kehilangan nafsu duniawinya dan hidup bahagia selamanya. Neraka yang panas, merah, penuh dengan penyesalan dan teriakan kesakitan dari orang-orang yang tidak pernah berbuat baik bagi sesamanya. Tempat di mana orang-orang yang sudah merasakan kebahagiaan duniawi menghabiskan sisa hidupnya yang selamanya itu.

Ide-ide orang tentang konsep surga dan neraka ini tidak pernah memuaskan rasa penasaranku terhadap apa itu surga dan apa itu neraka. Karena bagaimana pun juga mengenai “when you never try you’ll never know” itu masih tetap tinggal dalam pemikiran setiap manusia. Walaupun ada di Alkitab dituliskan mengenai “berbahagialan orang yang tidak melihat namun percaya” masih sulit rasanya. Tapi sekali lagi bukan berarti saya menolak keagamaan saya, saya tetap merasa agama ini penting bagi saya. Hanya sisi penasaran saya juga butuh dipuaskan kan?

Kalau hidup kekal itu adalah hidup dalam kenangan orang lain, berarti hidup kekal surga itu timbul dari kenangan-kenangan baik seseorang dalam ingatan orang lain. Kenangan-kenangan tentang semangat berbagi, kesetiaan, kepahlawanan, dan hal lainnya yang dianggap baik oleh si pemilik kenangan. Begitu pula dengan neraka. Neraka adalah tempat di mana kenangan buruk seseorang menetap dalam ingatan orang lain. Perilaku-perilaku yang tidak sesuai keinginan dan dianggap buruk oleh si pemilik ingatan. Ingatan berdasar kebencian, sirik, dan lain sebagainya.

Saya lebih percaya dengan konsep neraka dan surga yang satu ini. Daripada surga dan neraka yang imajinatif yang biasa dikenalkan pada saya sampai beberapa waktu yang lalu. Mengapa saya lebih percaya pada konsep ini? Karena bagaimana pun juga saya pernah punya kenangan yang artinya saya bisa jadi pernah mengalami surga dan neraka dalam diri saya sendiri. Artinya surga dan neraka itu bukanlah sesuatu yang pasti. Itu adalah konsep yang dapat diciptakan, yang artinya bisa jadi seorang yang sama itu tinggal dalam surga kenangan A tapi tinggal di neraka milik D. sama sekali tidak menutup kemungkinan karena pengalaman orang tidak akan sama, kalau pun sama pasti ada perbedaan cara memaknainya.

Saya bisa membuat surga sendiri bagi orang-orang yang saya kenal, dan bisa jadi saya memilih untuk tidak menciptakan neraka untuk semua orang. Biarlah mereka hidup kekal dengan cara yang baik. Yang jelas surga yang saya ciptakan sudah ditinggali oleh banyak orang, salah satunya Bapak.

2 komentar:

  1. "berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya"
    sama dengan diajarkan oleh nabi dalam agama ku :)

    biarlah otak bekerja dengan semestinya, terus berpikir apa yang memang ingin dipikirkan, tapi memang semuanya mesti ada etikanya.
    Rahasia Tuhan amat luas, dan kebodohan serta keterbatasan kita lah yang kadang menyesatkan kita.
    dan aku setuju kalo 'Doa' adalah pilihan terbaik yang mesti terus dilakukan.

    thanks yoyokski atas ilmu nya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. jadi intinya adalah tetep berbuat baik, mau bentuk surganya kayak apa juga.
      sok anonim segala, Hal!

      Hapus