Minggu, 08 Desember 2013

Ketulusan Sudah Punah (?)

Lagu ini, beberapa waktu lalu terputar secara tidak sengaja di playlist Ipod milikku. Lagu yang tentu sangat tidak asing, untukku, untuk banyak orang yang lain juga. Meskipun sering aku mendengar lagu tersebut, tetapi baru siang itu aku mendengarkan liriknya. Hahaha, pasti kamu juga tidak jarang melakukan hal sepertiku. Sering mendengar, tetapi baru lama berselang memperhatikan lirik lagunya. Sama!
Siang itu, tiba-tiba menjadi perenungan untukku.
“Jika surga dan neraka tak pernah ada. Masihkah kau, sujud kepada-Nya?
Jika surga dan neraka tak pernah ada. Masihkah kau menyebut nama-Nya?”
Lagu itu memaksaku melihat ke dalam diri sendiri. Mencoba melihat sekitar. Mencoba bertanya, Masihkah? Apa selama ini perbuatan baikku hanya karena aku ingin masuk surga? Apakah selama ini aku tidak berbuat jahat hanya karena aku tidak ingin masuk neraka? Kenapa aku tidak berbuat baik hanya karena aku mau berbuat baik. Kenapa aku harus tidak berbuat jahat hanya karena tidak ingin masuk neraka. Dua “tempat” yang bahkan mungkin tak pernah ada. Mengapa aku tidak melakukan sesuatu tanpa memikirkan akibat abstraknya? Dengan alasan yang sudah pasti nyata.
“Bisakah kita semua benar-benar sujud sepenuh hati
karena sungguh memang Dia memang pantas disembah, memang pantas dipuja”
Bisakah? Apakah aku terlalu sombong untuk mau yakin bahwa Ia memang sudah layak dan sepantasnya disembah dan dipuja? Kalau aku bisa merendahkan hati lebih jauh lagi sesungguhnya aku tidak perlu janji surga dan neraka untuk bisa dan mau menempatkan-Nya di tempat tertinggi. Iman akan Dia seharusnya cukup membuatku berbuat yang terbaik hanya demi kemuliaan-Nya yang semakin besar.
“Apakah kita semua benar-benar tulus menyembah pada-Nya?
Atau mungkin kita hanya takut pada neraka dan inginkan surga”
Apakah benar jika ketulusan itu sudah punah? Karena bahkan pada-Nya pun aku masih berharap pamrih. Berbuat baik pun harus berharap didekatkan pada surga dan dijauhkan dari neraka. Mengapa tidak aku membuang jauh konsep surga dan neraka kemudian berbuat baik begitu saja. Atau memang ternyata benar kalau semua orang butuh “bayaran” untuk segala sesuatu yang dikerjakannya?

Aku tidak meragukan keimanan siapapun kecuali diriku sendiri. Aku hanya skeptis pada diri sendiri, apakah benar aku tidak pernah tulus berbuat baik? Memang benar ketulusan sudah punah (?)


Sabtu, 02 November 2013

Lupa

16-17 Agustus 2013 kemarin aku pertama kali mengikuti rangkaian kegiatan kenegaraan dalam rangka ulang tahun Indonesia. Pengalaman yang rasanya tidak akan pernah terlupakan. Banyak hal yang aku dapat, banyak hal yang sudah diajarkan oleh kehidupan di kota pelabuhan kecil di pulau besar paling timur NKRI.

Dimulai dengan Tabtu. masa ini mungkin tidak banyak yang tahu tentang tradisi keliling kota dengan membawa obor. 16 Agustus malam, asumsiku kegiatan ini semacam napak tilas peristiwa Rengasdengklok di mana Soekarno dan kaum tua dibawa dan dipaksa oleh kaum muda saat itu untuk segera memanfaatkan “vacuum of power” saat Jepang menyerah tanpa syarat pada sekutu, untuk mewartakan kemerdekaan Indonesia. Dilanjut dengan renungan suci. Upacara mengheningkan cipta ini dilakukan di Taman Makam Pahlawan Bukit Genofa, Kaimana.

Taptu. Pawai obor keliling kota Kaimana. Semacam napak tilas perjuangan pahlawan di Kaimana

Esok paginya, pasti ada upacara penaikan dan penurunan Bendera Merah Putih. Upacara diadakan di Stadion Triton. Dihadiri oleh perwakilan siswa dan seluruh jajaran Muspida Kaimana.  Menariknya, upacara 17an di Kaimana memakai pasukan pengibar, dan pengiring lengkap. Katanya, di Papua Barat peristiwa upacara yang paling lengkap hanya ada di Kaimana. Paskibra adalah siswa-siswi pilihan dari perwakilan SMA di Kaimana. Mereka digojlok selama 1 bulan untuk mempersiapkan beberapa menit tugas menaikkan dan menurunkan Sang Merah Putih.

Siang hari setelah upacara penaikan bendera aku mengikuti rombongan pejabat ke Rumah Tahanan. Setiap 17 Agustus, Negara selalu memberikan juga hadiah pada tahanan. Selalu ada grasi untuk mereka yang berkelakuan baik dan kooperatif selama ditahan. Selalu ada senyum-senyum bahagia dari mereka yang mendapat keringanan tahanan, atau bahkan pembebasan.

Ditutup dengan Malam Resepsi Kenegaraan. Malam yang sangat berkesan untukku. Selain karena gedung pertemuan Krooy yang megah, dekorasi merah putihnya yang rapi dan makan malam yang sehat juga hal unik lainnya. Ada sebuah kebiasaan di Kaimana, mungkin di seluruh Papua. MENARI. Mereka sangat suka menari.

Mereka menyebut kegiatan menari itu “Tumbu Tanah” orang Kaimana selalu mengadakan tumbu tanah di setiap akhir acara senang-senang mereka. Diiringi dengan alunan keroncong nilon (alat musik khas suku-suku di Kaimana) semua orang yang ada di Gedung Pertemuan Krooy membentuk lingkaran besar memenuhi ruangan, tidak terkecuali aku dan teman-teman unit KKN-ku. Kami semua menari, seakan dalam hidup ini tidak ada masalah. Bebas, lepas.

Tariannya jangan bayangkan gerakan rumit ala B-boy atau gerakan lemah gemulai putri kraton menari Srimpi. Tumbu tanah itu lebih banyak gerakan kaki semangat kecil-kecil dan kadang diikuti pinggul yang diputar ke kiri dan ke kanan.

Satu hal yang paling berkesan adalah bahwa ketika aku menuliskan semua orang ikut menari itu dalam artian semuanya. Tanpa kecuali. Semuanya, bahkan setiap pejabat yang datang ke acara tersebut ikut menari. Tidak ada malu, tidak ada jaim, tidak ada gengsi. Dandim, Guru, anggota Paskibra, anak-anak, siswa-siswi, kami peserta KKN, dan bahkan Bupati ikut menari bersama. Tanpa protokoler yang rumit seperti biasa dilihat di Jawa, di mana semua tampak sangat tegang dan ketakutan akan keamanan. Tapi aku juga sempat berpikir, betapa mudahnya orang yang berniat membunuh Bupati Kaimana waktu itu. Tanpa ada pengamanan, semua orang bisa dengan mudah berbincang, bersentuhan, atau mungkin menusuk dengan senjata tajam.

Dokumentasi-KKN-Kaimana-519 resize
Bupati Kaimana dan warganya menari bersama

Dokumentasi-KKN-Kaimana-522 resize
teman-teman mahasiswa KKN UGM

Aku sedikit berandai apa bisa setiap pejabat di Indonesia ini menari bersama seperti di Kaimana. Selepas dan sebebas itu. Pasti sangat menyenang kalau bisa, walaupun hanya sebentar mungkin setiap orang bisa melupakan pangkat, jabatan dan gengsinya. Melupakan masalah dan bebannya. Melupakan kaku atau luwesnya gerakanmu untuk menari,melakukan hal yang menyenangkan bersama-sama.

*foto-foto hasil jepretan Jason Iskandar

Sadar Berbeda

Kan kuingat selalu
Kan kukenang selalu
Senja indah
senja di Kaimana
Seiring surya
Meredupkan sinar
Dikau datang
Ke hati berdebar.

Kamu mungkin tidak banyak yang kenal tentang syair di atas, tapi coba bacakan barisan syair tersebut pada bapak, ibumu, atau paklik dan budhemu. Mereka pasti lebih mengenalnya. Lagu tersebut adalah lagu “Senja di Kaimana”, lagu yang dipopulerkan oleh Alfian pada tahun 1970an. Liriknya hasil karya seorang prajurit Trikora yang mendarat di Kaimana dalam tugas pembebasan Irian Barat. Ya, Kaimana dulu adalah salah satu pelabuhan penting bagi beberapa sejarah Indonesia terkait Papua.

Tidak hanya senjanya, di belahan Papua mana pun, rasanya pasti akan ditemukan keindahan-keindahan yang dikatakan mirip surga itu. Sementara ini baru Rajaampat saja yang terkenal, itu baru sebagian kecil dari keindahan Papua seluruhnya.

oleh : Suryo Hapsoro

Tapi aku bukan dalam rangka bercerita tentang keindahan alam Kaimana. Hal yang terlalu indah untuk diceritakan. Datanglah ke sana, rasakan sendiri, dan kamu akan tahu mengapa aku kesulitan menceritakan keindahannya. Aku ingin bercerita tentang keindahan lain yang aku temukan di Tanah Papua, surga kecil jatuh ke bumi. Keindahan yang membuatku yakin betul kalau aku mencintai negeri ini. Bahwa perbedaan itu betul sungguh indah bila dipahami bersama.

Momen ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-68 kemarin aku rayakan bersama teman-teman unit PPA01 - Kuliah Kerja Nyata Universitas Gadjah Mada dan warga Kaimana. Aku yakin, 17an tahun ini menjadi yang paling berkesan untukku sampai 21 tahun aku belajar bernafas.

Beberapa tahun yang lalu, aku pernah berkata kalau nasionalisme tidak harus ditunjukkan dengan upacara bendera. Tidak ada yang suka mengikuti upacara yang panas, orang harus bersikap sempurna selama kurang lebih 1 jam, lelah, pusing, bahkan tidak sedikit yang pingsan ketika upacara tengah berlangsung. Nasionalisme seseorang harusnya cukup ditunjukkan dengan berusaha sekuatnya untuk membuat hari esok negaranya menjadi lebih baik.


Agustus Kemarin adalah kali pertama aku mengetahui dan mengikuti rangkaian kegiatan “kenegaraan” dalam rangka merayakan hari ulang tahun Republik Indonesia. Kami, kelompok KKN Kaimana, mendapatkan undangan resmi dari Pemerintah Daerah Kabupaten Kaimana untuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan kenegaraan tersebut.

Melalui dan mengikuti seluruh rangkaian acara kenegaraan tersebut membuatku tidak lagi meremehkan upacara bendera. Memang, upacara melelahkan, panas, menyebalkan tetapi bukan berarti upacara bendera saat 17 Agustus itu tidak perlu. Kalau kamu tinggal di Papua mungkin bisa merasakan pentingnya I.N.D.O.N.E.S.I.A. Dengan ratusan suku yang berbeda, identitas sebagai Indonesia, bahasa Indonesia menjadi wadah netralisasi primordialisme suku. Menjadi pencipta kesadaran akan perbedaan dan kebutuhan rasa kebersamaan.

Di Jawa sini, mungkin tidak terlalu dirasa penting. Kita terlalu seragam, terlalu satu warna, terlalu satu suku. Jadi rasanya buat apa ada upacara (buat apa ada Indonesia?) kalau kita sudah merasa sama. Sama Jawa, sama Islam, sama Sunda, sama suku, tapi tidak merasa sama sebagai Bangsa Indonesia. Rasa kesamaan sempit itu sebenarnya yang menjadi bom bunuh diri. Identitas bangsa ini kemudian terdistorsi menjadi sekadar rasa kesukuan, keagamaan.

Bila sudah merasa sama, pasti akan ada yang ingin berbeda. Negatifnya jadi terkesan seperti mencari-cari perbedaan. Membuat konflik dan masalah perbedaan yang seharusnya tidak perlu. Rasa kesamaan itu yang menurutku makin mengikis arti pentingnya Indonesia sebagai pemersatu.

Aku berefleksi, kenapa aku harus menolak ikut upacara paling tidak setahun sekali padahal setiap Minggu aku meluangkan waktu pergi ke Gereja. Padahal aku tinggal di tanah Indonesia. Tuhan meletakkan aku di tanah ini untuk jadi tanah tumpah darahku, untuk berkarya bagi Tuhan dan seharusnya bagi bangsaku juga. Seharusnya aku bisa menjadi 100% Katolik dan 100% Indonesia, Tidak hanya 50%-50%, seperti yang dikatakan Mgr. Soegijapranata SJ, uskup yang belum lama ini kisahnya diabadikan dalam sebuah film layar lebar.

Upacara menjadi semacam titik penyadaran bahwa Negara ini masih ada, Negara ini masih kokoh berdiri walaupun diterpa selaksa masalah. Merah Putih tetap dapat berkibar setinggi-tingginya. I.N.D.O.N.E.S.I.A tetap bersatu walaupun berjuta perbedaan hidup di dalamnya. Bahwa dalam upacara bukan hanya kaki dan seluruh tubuhmu saja yang harus tegap berdiri, tapi lebih dari itu. Hatimu. Hatimu harus tegap, busungkan dadamu dan sadarilah kalau I.N.D.O.N.E.S.I.A adalah negara besar. Negeri multikultur yang sangat kaya. Tanamkanlah dalam diri bahwa justru perbedaan itu yang menjadikan negeri ini semakin kaya, dan kekayaan itulah yang harus dijaga oleh setiap pribadi manusia yang mengaku orang Indonesia.


Perbedaan memang harus disadari dan diakui. Dengan begitu perbedaan tersebut bisa digunakan untuk saling melengkapi, bukan hanya kekurangan dan kesalahan saja yang dicari. Menurutku tidak pada tempatnya kalau kita semua harus merasa sama karena memang tidak akan pernah sama. Bahkan pusaran jari kelingking dan jari manis tangan kananmu pun tidak akan pernah sama. Maka bukannya kita semua harus menyatukan perbedaan, sebenarnya jauh lebih indah kalau kita bisa bersatu dalam perbedaan.

Senja di Kaimana
Dan kasihmu dara
Dalam jiwa
Sampai akhir masa

Terimakasih Kaimana, pelajaran ini akan selalu terkenang sampai akhir masa.

*foto diambil oleh teman saya, Jason Iskandar, dan saya sendiri

Jumat, 04 Oktober 2013

Karena Cinta Masih Ada

30 September 1965.

Saat di mana negeri ini mengalami masa kelam. Masa lalu abu-abu yang hingga sekarang belum pasti warnanya. Bukan putih bukan hitam. Abu-abu. Bagaimana peristiwanya, siapa pelakunya, mengapa terjadi? Semuanya masih samar, tidak jelas. Hanya satu yang mungkin bisa diyakini, semuanya jadi korban. Semuanya merasa kehilangan, semuanya dirugikan, atau paling tidak, akan ada saatnya mereka merasa rugi.

Mengenang masa lalu. Orang punya caranya masing-masing. Punya caranya sendiri untuk menghargai masa lalunya, yang harusnya tidak ada yang boleh, walaupun bisa, mengatur jalan cerita dan sejarah seseorang.

Hari tanggal yang sama, empat puluh delapan tahun kemudian. Papermoon membawakan kenangan dengan caranya sendiri. “Secangkir Kopi dari Playa” mengisahkan tentang kisah nyata, romansa sepasang kekasih yang sempat terganggu kejadian puluhan tahun silam.

Ini tentang mencintai. Ini tentang bagaimana seseorang menepati janjinya. Ini tentang kekuatan kenangan yang bisa membuat seseorang bertahan hidup.




“Secangkir Kopi dari Playa” sudah pernah dipentaskan sebelumnya pada tahun 2011 di Yogyakarta. Waktu itu, pentas ini diadakan di sebuah toko barang antik. Di sebuah ruangan penuh barang yang sarat dengan cerita dan kenangan.

Kali ini, berbeda. Bukan lagi di toko barang antik seperti sebelumnya. Dilangsungkan di sebuah rumah di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Pertunjukan di Jakarta kali ini gratis, tapi  setiap orang yang mau menyaksikan pentasnya harus memulai dulu dengan berbagi. Mereka harus menukarkan tiket pertunjukan dengan sebuah barang yang ingin dilupakan, serta alasan mengapa ia ingin melupakan barang tersebut.

Menurutku, pementasan “Secangkir Kopi dari Playa di Jakarta kali ini lebih intim. Suasana dan koneksi antara penonton, boneka dan pemainnya mulai dibangun bahkan sebelum pertunjukkan berlangsung. Konsepnya adalah pengumpulan barang untuk pembukaan museum. “Museum Pahit Manis” namanya.



Museum ini mengumpulkan barang dari siapapun yang ingin berbagi kenangan, tentang apapun. Tentang keluarga, tentang refleksi diri, tapi yang akhirnya paling banyak terkumpul adalah tentang kisah cinta dengan pasangannya. Memang kisah cinta seperti ini tidak akan pernah ada habisnya  Barang-barang yang dikumpulkan itu kemudian dipajang di luar area pertunjukan, lengkap dengan cerita pahit-manisnya.

 “Secangkir Kopi dari Playa” itu seperti menceritakan lagi sebuah kenangan pahit manis. Rasanya seperti cangkir kenangan penikmatnya diisi lagi dengan tuangan kenangan lain dengan cara yang indah. Lewat boneka-boneka yang tampak hidup, punya jiwa, punya rasa.




Proses pengumpulan benda dan ceritanya itu seperti proses menuang dan mengisi cangkir dan teko kenangan. Teko kenangan yang terus diisi mungkin akan penuh suatu saat, maka penontonnya sekarang diminta untuk menuangkan dulu kenangan yang pernah dialaminya sendiri untuk dinikmati orang lain. Berbagi kenangan masa lalu, baru kemudian “Secangkir Kopi dari Playa” mengisi lagi hati penontonnya dengan kenangan tentang kisah romansa pemuda pemudi.

Kenangan tentang 30 September 1965 di Indonesia, menjadi kenangan pahit bagi siapapun, terutama untuk negeri ini. Tragedi itu akan selamanya terkenang. Terlepas dari siapa yang salah dan siapa yang benar, harus disadari bahwa kejadian itu benar pernah terjadi. Kejadian mengerikan itu benar-benar pernah ada.

Hari tanggal yang sama, empat puluh delapan tahun kemudian aku mengingatnya dengan cara yang indah. Dengan cara yang menyenangkan. Dengan cerita cinta, bukan permusuhan seperti yang biasanya dilakukan. Karena aku pernah mendengar kalau apa yang kita rasakan saat ini sebagai kebenaran, suatu hari  nanti akan kita jumpai sebagai sesuatu yang indah[1], seperti yang selalu disampaikan Frans, tour guide, Museum Pahit Manis.

Secangkir Kopi dari Playa ini menjadi semacam jalan untukku memaknai kenangan negeri ini lewat konflik yang pernah terjadi. Bahwa dalam tragedi sebesar itu, dalam kisah sedih semasif itu masih tersisa berkas-berkas kasih. Walaupun samar. Karena cinta masih ada.







[1] "What We Have Here Perceived as Truth, We Shall Encounter Some Day as Beauty” – judul pameran karya FX Harsono tanggal 1-22 Juli di Jogja National Museum di Yogyakarta

Rabu, 12 Juni 2013

Separuh



Separuh wanita, separuh pria. Seorang wanita yang hidup “terjebak” di dalam raga pria. Mereka yang dianggap tabu dan dipandang menyimpang oleh lingkungan. Dijauhi secara sosial dan pandangan religius. Bahkan kadang keluarga pun tidak mau lagi menerimanya sebagai bagian di dalamnya. Belum lagi kesulitan mendapat kerja, baik di sektor formal maupun informal, itu yang membuat mereka kebanyakan menggantungkan nasibnya pada kerja-kerja yang lagi-lagi menjadi stereotype bagi tindakan menyimpang mereka. Tapi sadarkah kamu kalau mereka juga manusia, yang butuh makan, butuh teman, butuh ibadah? Mereka juga butuh merasakan cinta yang sama, dari keluarga, dari lingkungan pertemanan.

Di Thailand, banyak orang yang menjadi ladyboy. Melihat waria di sana adalah hal biasa, bahkan ada sekolah khusus bagi waria. Artinya bahwa kecenderungan menjadi seorang waria memang sudah terlihat dari awal, dan artinya juga di Thailand penerimaan mereka akan hal itu sudah sangat tinggi. Thailand adalah sebuah Negara kerajaan yang aktivitas religiusnya cukup tinggi. Tuhan dalam pandangan mereka adalah sempurna. Sempurna dalam arti segalanya. Tuhan tidak bisa hanya dipandang sekadar laki-laki atau perempuan. Tuhan lebih sempurna dari dua jenis kelamin tersebut. Tidak ada yang bisa menghakimi mana jenis kelamin yang benar dan belum tentu ada salah satu yang salah.

Menjadi seorang waria bukanlah pilihan, bukan juga penyakit. Kalau bisa memilih, sejak lahir mereka pasti akan memilih salah satu. Kalau itu penyakit, coba carikan dokter yang bisa menyembuhkannya. Mereka akan dengan senang hati menerima obatnya. Seperti yang dikatakan oleh Bu Maryani, seorang waria yang mendirikan pesantren khusus waria di sekitar Notoyudan.

Pesantren Waria ini adalah tanda harapan dari kaum waria. Harapan mereka untuk sebuah penerimaan. Penerimaan dari orang-orang sekitar. Penerimaan akan keberadaan dan keberibadahan waria. Bahwa waria juga punya hak yang sama dalah beribadah. Bahwa Tuhan menciptakan mereka sempurna juga adanya, tidak hanya separuh.

Para waria seperti yang sering berkegiatan di pesantren waria itu semacam dipaksa untuk terus hidup di lingkungan kota besar. Hampir tidak tersedia penerimaan yang cukup di lingkungan sekitar ketika mereka ingin tinggal di desa yang hubungan antarindividunya masih intim. Untuk itulah mereka berkutat di tengah kota besar, di mana mereka bisa “bersembunyi” dengan cara melebur dalam kehidupan kota yang semakin individualis. Pergi ke kota dan meninggalkan masa lalu mereka, di mana banyak orang yang mengenal mereka sebelumnya.

Tantangan generasi orang tua kita adalah tentang penerimaan keputusan yang berhubungan dengan masalah keyakinan. Orang tua dari anak muda di masa seperti ini masih banyak yang merasa keberatan ketika anaknya memutuskan untuk pindah agama, atau misalnya memilih pasangan yang tidak seiman. Sepertinya hal itu menjadi masalah besar bagi keluarga. Masalah besar bagi nama baik orang tua, bisa dianggap tidak berhasil mendidik anak sesuai ajaran agamanya.

Bisa jadi tantangan generasi muda saat ini di masa depan adalah menerima orientasi seksual anak kita kelak. Buatku, akan sangat sulit rasanya ketika anak lelakiku mendatangiku dengan perasaan cemas dan berkata, “Pak, aku gay”. Bisa jadi anakku akan melontarkan protes yang sama atas kekolotan orang tuanya dalam menerima keadaan. Bisa jadi, sangat mungkin.

“Bahwa Tuhan tidak pernah menghakimi, hanya manusia yang selalu berusaha menuhani manusia lain” – Bu Maryani

Senin, 03 Juni 2013

Ayo Pulang, Teman!

Kadang-kadang secara tiba-tiba pikiranku sering memikirkan tentang bagaimana negeri ini dapat dipandang secara positif. Setiap kali menyaksikan, mendengar, membaca berita sehari-hari tentang apa-apa saja yang terjadi di negeri ini selalu saja muncul alasan untuk sangsi dengan kemampuan negeri ini. Pejabat gila wanita, wanita gila harta, kelamin lelaki yang dipotong, hingga tuntutan kaum waria untuk diduakan.

Pemerintahnya, masyarakatnya. Mahasiswa (sok) menjadi agen perubahan dengan teriakan lantang di hadapan gedung MPR, bertampang sangar dan menjadi jagoan menentang kebijakan pemerintah yang dianggap menyengsarakan rakyat kecil. Kebijakan yang dirasa hanya menguntungkan satu pihak saja. Tapi di sisi lain, untuk menghormati sebuah peraturan kecil pun tidak dilaksanakan, “membuang sampah di tempatnya,” misalnya. Pemerintahnya merasa selalu benar dan apa yang dilakukannya menjadi apa yang dirasa dibutuhkan oleh rakyatnya.

Mereka yang di kursi pemerintah sana, kamu, dan aku juga sama saja. Tidak ada yang ingin disalahkan dalam setiap permasalahan. Lagipula siapa yang mau?

Masalah-masalah seperti itu yang rasanya membuat negeri ini sudah semakin miskin dalam penanaman rasa ingin “pulang”. Banyak sekali anak muda yang lahir dan besar di negeri ini, makan dan mencari bekal ilmu sampai dirasa cukup di negeri ini kemudian pergi keluar negeri. Mencari ilmu dan masa depan yang lebih cerah, katanya, untuk dirinya sendiri. Mereka tinggal di negeri orang, dengan keadaan yang jauh lebih baik. Tapi tidak banyak yang ingat pulang. Padahal menurut saya, negeri ini sangat membutuhkan kepulangan anak muda dengan berjuta ide dan inovasi seperti itu.

“Kenapa harus pulang kalau negara tidak menghargai kemampuanku?” Kalau tujuan pulang memang untuk mencari penghargaan, rasanya memang masih sulit. Tapi tujuan pulang untuk membawa perubahan itu harus diakui memang lebih sulit. Jadi kenapa tidak pulang? Kalau alasanmu adalah mencari tantangan di luar negeri, Tanah airmu punya tantangan yang jauh lebih besar untukmu. Tanah ini tidak akan pernah kurang menyediakan tantangan bagi anak mudanya.

Apa kamu tidak merasa punya hutang hidup bertahun-tahun menginjak tanah ini, minum dari mata air gunung kepulauan ini, makan beribu ikan dari laut negeri ini, dan menghirup oksigen dengan segala campurannya dari udara di sini? Walaupun dengan segala masalah, sakit, dan derita juga. Tapi siapa yang tidak punya masalah?
Jadi sebetulnya negeri ini butuh makin banyak orang untuk pulang. Untuk kembali ke rumah. Untuk memanfaatkan ilmunya di tanah air. Untuk membawa perubahan. Ayo pulang, teman!

Selasa, 16 April 2013

Ujian Nasional, Buat Apa?

Ujian Nasional 2013. Sudah tiga tahun yang lalu, saya berhasil lolos dari hadangan kelulusan. Memori tentang usaha dan tekanan yang saya lalui masih menjadi hal yang tidak bisa terlupakan. Eudamonia, mengetahui kelulusan dengan berjalan kaki beberapa kilometer dari sekolah menuju Tugu Jogja hanya untuk menyanyi Indonesia Raya dan Mars De Britto juga terus lekat dalam ingatan saya.

Bicara tentang UN, di luar "kegagalan" distribusi soal tepat pada waktunya ke 11 Provinsi, menurutku tidak pernah berubah. Bahwa UN tidak pernah bisa mengukur apapun. Dan kalau benar memang UN sebagai ukuran standar pendidikan negara ini, berarti pendidikan di sini betul sangat dangkal.

Saya mengerjakan 6 mata pelajaran yg diujiankan pada tahun 2010. Nilai yg saya dapat cukup bagus saat itu. Dua nilai 9, dua nilai 8, satu nilai 7, dan satu nilai nyaris 6. Tetapi setelah 3 tahun berselang, hanya soal-soal bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris saja yang masih bisa saya kerjakan. Sisanya? Saya sudah kesulitan untuk mengerjakannya. Saya yakin, kebanyakan dari kamu juga mengalami hal yang sama. Lalu apa guna nilai cukup baik tadi buat saya? Selain hanya untuk dibanggakan pada teman lain yang mendapat nilai tidak lebih baik? Bahkan untuk masuk PTN pun saya melalui tes tertulis yang terpisah.

Kalau dibilang pendidikan itu harus berkesinambungan, berarti UN tidak menjadi sistem dalam pendidikan yang tepat. Karena pelajaran yang saya terima di SMA menjadi sebatas pengukur nilai yang selesai manfaatnya ketika sudah menerima ijazah SMA. Angka 10 dan 5 menjadi tidak timpang lagi setelah ijazah itu masuk ke map plastik untuk dimasukkan ke dalam lemari penyimpanan berkas di rumah.

Mirisnya, proses pencapaian nilai bagi semua peserta UN malah menjadi kontradiksi bagi pendidikan itu sendiri. Segala cara diusahakan untuk dapat nilai NEM terbaik, atau peringkat sekolah yang lebih baik. Membeli jawaban, dan bentuk kecurangan semacamnya menjadi hal yang sepertinya sudah bisa ditoleransi.

Kemudian juntrungannya adalah mentalitas yang bangga akan ketidakjujuran. Kenangan curang saat menghadapi UN menjadi hal yang normal bahkan tampak menjadi memori yang dapat dibanggakan. Tidak heran kalau sekarang kita sering melihat orang yang ditangkap karena kasus korupsi tetap dengan bangga melambaikan tangan ke kamera para pencari berita. Bangga? Atau karena kebiasaan orang Indonesia yang murah senyum? Tetapi rasanya (semoga) warga negeri ini masih punya rasa malu.

Saya jadi salah satu orang yang merasa berhak bangga bisa mengerjakan UN dengan kemampuan sendiri. Sanksi sosial yang akan diterima dari teman-teman di sekolah saya rasanya menjadi momok yang lebih menakutkan dari pada tidak lulus. Tetapi sebanyak apa lingkungan seperti itu bisa terbentuk di negara seluas ini?

Rasa-rasanya bekal dari SMA adalah mengenai pelajaran tentang hidup. Tentang bersosialisasi, menemui tantangan, memecahkan permasalahan, memupuk sikap empati pada lingkungan. Hanya sedikit saja sisa mata pelajaran yang saya ingat sampai saat ini. Rata-rata nyaris 8 di ijazah saya tadi, sekali lagi hanya berhenti pada sebatas bukti lulus Sekolah Menengah Atas.

Sudah banyak siswa yang mengeluh, guru yang menolak, orang tua yang menentang, tetapi nyatanya sistem seperti ini tidak pernah berubah. Nyatanya keluhan, tolakan, dan tentangan tersebut tidak pernah bisa menggoyahkan kekerasan hati para pembuat keputusan. Lalu alasan apa yang sangat kuat sehingga mereka tetap pada pendiriannya terus mengadakan UN walaupun program ini menghabiskan dana yang tidak sedikit hanya untuk mencetak soal-soalnya?


Tapi sekali lagi, hanya komentar dan berbagi pemikiran saja yang bisa saya lakukan saat ini. Jadi buat apa ada Ujian Nasional? Saya memilih untuk berusaha berpendapat bahwa mungkin untuk eksplorasi, dan mencari ramuan yang cocok untuk pendidikan negeri ini. Daripada menghakimi UN sebagai kekolotan penguasa, dan proyek sampingan kejar setoran (?) Eksplorasi aja terus, Pak!

Sabtu, 13 April 2013

Itulah Gunanya (Menjadi) Teman

Pernah kamu dihubungi temanmu ketika ia membutuhkan bantuan? Pernah kamu dicari temanmu hanya ketika ia membutuhkan bantuan? Pernah kamu mencari temanmu hanya ketika kamu butuh bantuan?

Saya sering tidak mengerti dengan keluhan dari orang-orang yang saya kenal lewat media sosialnya. Mereka mengeluh tentang ketidaksukaannya ketika dihubungi saat dibutuhkan bantuannya oleh orang lain. Datang menemui teman di saat butuh bantuan saja, apakah itu sebuah kesalahan?


Menurutku, tidak ada yang salah dengan mencari bantuan pada teman-temanmu. Begitu juga sebaliknya. Siapa pun dia, di mana pun dia, ketika kamu membutuhkan bantuan dan temanmu sanggup membantu apa yang salah? Begitu juga sebaliknya.

Saya, sebagai teman, merasa kalau itulah maknanya menjadi teman. Kalau kata Mocca, "a friend in need is a friend in deed". Saya merasa senang hati ketika ada teman yang minta bantuan secara mendadak dan saya bisa memenuhinya. Pilihannya adalah saya bisa membantu atau tidak, bukan saya tidak mau membantu karena dia hanya datang saat butuh bantuan.


Kalau dibalik, saya merasa punya sangat banyak kenalan, tersebar di banyak tempat juga. Saya tidak bisa dengan intensitas tinggi yang sama berkomunikasi dengan semua teman saya itu. Dan apakah ketika saya tidak bisa menjaga intensitas komunikasi dengan beberapa teman saya kemudian membuat saya tidak berhak meminta bantuan? Lalu dunia saya akan semakin sempit dengan hanya lima sampai delapan teman saja yang setiap harinya bisa jalin komunikasi.

Itulah gunanya teman, diminta bantuan di saat diperlukan. Dan itu juga gunanya menjadi teman, memberi bantuan juga di saat diperlukan. Bantuan apapun itu, mungkin hanya diperlukan sebagai teman berbagi cerita, sampai teman yang membantu angkat lemari saat pindah kos, atau teman belajar soal matematika untuk Ujian Nasional, juga teman "titip nge-print" ya!


Pada akhirnya, setiap orang bisa punya pendapatnya masing-masing. Tapi yang jelas saya adalah orang tipe yang cukup bingung dengan pernyataan "temen kok dateng pas butuhnya aja". Ya karena "that's what friends are for" to? Untuk jadi orang yang siap di saat dibutuhkan (saja).

Pelajaran Tentang Belajar

Menyaksikan pagelaran wayang memang sudah bukan menjadi hal yang populer bagi anak muda di tahun 2013 ini. Bahkan kesannya sangat ketinggalan zaman dan usang. Datang ke pagelaran wayang kulit dan memang saya menemukan kalau sebagian besar penontonnya adalah bapak-bapak, sedikit ibu-ibu yang membawa anaknya usia SD, dan lebih sedikit lagi anak muda.

Keterbatasan pengertian bahasa untuk mengerti alur cerita membuat saya menikmati pagelaran wayang kulit dengan bertukar cerita dengan teman-teman diiringi alunan  satu set lengkap gamelan Jawa.

Kira-kira ini isi pembicaraan kami :

Dimulai dengan mencari alasan mengapa wayang kulit sudah semakin tidak diminati oleh orang seusia kami yang lahir sekitar awal tahun 90an. Menurut kami, pertama-tama, adalah kesulitan bahasa. Dalam pertunjukan wayang kulit yang tradisional, sesuai pakem, bahasa yang digunakan adalah Bahasa Jawa kuno yang masih tercampur dengan Sansekerta. Bahasa tersebut bisa terdengar sangat asing bagi telinga orang-orang "modern" saat ini. Nyatanya sudah ada pagelaran wayang kulit yang menggunakan Bahasa Jawa yang biasa digunakan sehari-hari, tetapi penikmat pertunjukannya tetap bukan anak muda.
Minat mungkin bisa menjelaskan. Kurangnya minat anak muda mengenal wayang membuat hal itu menjadi tidak lagi menarik untuk dipelajari. Nyatanya, saya sangat berminat dengan wayang tetapi baru sekali ini "sempat" datang menyaksikan langsung. Sampai kami pada pemikiran kalau bisa jadi kegiatan belajar di kuliah adalah salah satu yang jadi penghambat minat anak muda pada wayang.

Wayang selalu digelar pada waktu malam hari. Tujuannya, pada zaman dulu adalah untuk mengisi waktu luang orang-orang. Tetapi apakah waktu luang itu benar-benar nyata untuk mahasiswa saat ini? Banyak dari teman saya dan mungkin saya sendiri sering menghabiskan malam dengan tugas. Tugas untuk mendapat sekadar nilai A, B, C atau sialnya D. Tentu pendapat ini di luar dari kalahnya pamor wayang sebagai pengisi waktu luang dibanding game online, mall dan cafe yang sudah menjadi stadar gaul anak muda sekarang.
Tetapi memang, bagi saya, tugas-tugas dan tuntutan dari sistem edukasi yang ada sekarang menjadi semakin membatasi, minat anak muda mengeksplorasi hal selain buku materi panduan belajarnya.

Padahal dalam cerita wayang selalu ada pembelajaran yang sangat baik tentang kehidupan. Setiap tokoh dalam cerita wayang selalu punya kelebihan dan kekurangan. Tokoh-tokohnya adalah gambaran nyata tentang manusia dan dengan tafsir tertentu menjelaskan hubungannya dengan Tuhan. Tidak pernah ada sosok sempurna dalam pewayangan. Arjuna misalnya, ia adalah sosok ksatria yang sangat kuat, tampan, dan menjadi salah satu tokoh Pandawa yang paling sakti. Tetapi ia juga seorang playboy. Nafsunya terhadap perempuan sangat besar. Rahwana, raksasa yang lahir dan menjadi gambaran tentang segala nafsu duniawi yang bisa dimiliki manusia. Tetapi ia adalah sosok yang sangat bisa menghargai Dewi Sinta. Rahwana tidak pernah menyentuh Dewi Sinta tanpa izin darinya, ia melawan segala nafsunya untuk berusaha mendapatkan hati sang Dewi.

Buat saya, kadang cerita wayang bisa mengajarkan lebih banyak daripada ajaran agama. Cerita wayang adalah cerita yang butuh penafsiran ulang untuk dapat memahami pesannya. Kelebihannya dari ajaran agama adalah tidak ada pihak yang terlegitimasi untuk 'memaksakan' tafsir tentang cerita wayang. Saya bisa saja menyatakan kalau para dewa berlaku curang dengan menggagalkan Sastra Jendra Resi Wisrawa dengan Dewi Sukesi sehingga lahirlah Rahwana dan adik-adik jahatnya. Tetapi menjadi sulit bagi saya jika saya menyatakan kalau Tuhan pun bisa tidak sempurna.

Seharusnya dengan wayang, manusia bisa belajar banyak hal. Saya mendapat pelajaran dengan bebas membuat tafsir tentang pesan moral dari cerita pewayangan dengan tidak ada seorang pun yang berhak menyatakan kalau tafsir saya salah. Masalah tafsir bisa jadi sangat sensitif bagi ajaran agama. Perbedaan tafsir atas satu atau beberapa ayat bisa menjadi alasan yang dibenarkan untuk mencabut nyawa seseorang. Perbedaan tafsir bisa jadi pemecah perang bagi beberapa negara tanpa pernah diketahui penyelesaiannya.

Tidak sesederhana ini perbincangan 6 jam tadi malam. Tapi pada akhir malam menjelang pagi itu saya mendapat banyak hal baru. Pelajaran tentang belajar, belajar bukan hanya sekadar kuliah menyiapkan masa depan, belajar dengan melihat ke masa lalu menghargai karya kebudayaan, dan belajar tentang kehidupan.

Wayang Kulit

Tadi malam adalah kali pertama saya datang dan menyaksikan langsung pagelaran wayang kulit tradisional. Saya bersama 5 teman yang lain berangkat menuju Pendopo Museum Diponegoro. Ayah dari salah satu sahabat saya adalah seorang dalang, cukup kondang, kata anaknya. Saya jelas tidak mengerti ukuran keterkenalan seorang dalang itu sebatas apa. Hal yang pasti oleh pribadi seumuran saya juga merupakan ukuran yang asing. Paling-paling dalang paling dikenal adalah Ki Manteb dengan "Pancen Oye"-nya.

Ki Mas Lurah Cermo Radyo Harsono adalah sang dalang, ayah Richo, teman saya itu. Ia adalah seorang Tionghoa. Bukan bermaksud SARA, hanya saja memang bias etnis itu sudah sangat jelas terlihat sekarang.

Cerita lakonnya berjudul "Sekar Kanyiri Salaga", sebuah lakon yang baru pertama kali itu digelar. Alur ceritanya? Saya sendiri tidak mengerti karena bahasa yang digunakan oleh Ki Radyo Harsono, sebagai dalang tradisional, adalah Bahasa Jawa kuno yang masih tercampur dengan Sansekerta. Tapi bukannya saya tidak bisa menikmati wayangan itu.

Sepanjang pagelaran saya berhasil dibuat sangat takjub. Melihat Ki Dalang yang tidak menghadap teks apapun, dalam pikiran saya bagaimana bisa ia semalam suntuk menceritakan satu lakon lengkap dengan dialog dan penghayatan dan perubahan suara pada tiap dialog tokohnya. Mendapat cerita dari Richo bahwa baru semalam sebelumnya ayahnya diberi bahan untuk memainkan lakon "Sekar Kanyiri Salaga" itu, logika saya tentang latihan untuk menyiapkan pertunjukan langsung rusak. Mendengar dialog antar tokoh sekaligus menyadari  ketiadaan teks itu membuat saya berpikir kalau seorang dalang adalah freestyle rapper terhebat. Bukan para kulit hitam yang tinggal di Bronx sana.

Sebagai orang yang mengaku Jawa, saya merasa sedikit malu, kenapa baru sekarang setelah 21 tahun saya datang langsung menyaksikan pagelaran Wayang Kulit seperti ini. Nama saya bahasa Jawa, saya menghabiskan sebagian besar usia saya sekarang di satu-satunya Kerajaan Jawa yang diakui sebagai Provinsi di Indonesia, saya berbicara dengan teman-teman dengan fasih berbahasa Jawa, tetapi baru kali ini datang ke pertunjukan Wayang Kulit. Semacam merasa kurang "gaul".

Dalam waktu 6 jam, banyak sekali perbincangan menarik terjadi antara saya dan teman-teman saya tentang wayang, budaya Jawa, dan anak muda. Dalam waktu 6 jam pula saya merasa mendapat sangat banyak pengatahuan dan masukan baru untuk otak saya ini. Pada akhir malam menjelang pagi itu, saya berjanji pada diri saya sendiri kalau kedatangan untuk wayang kulit ini bukan jadi yang terakhir untuk saya.

Senin, 18 Februari 2013

Tentang Waktu (2)

Nonton Film "In Time" ini selalu bikin nggak tenang. Kebayang beneran kalo hidup orang tergantung sama kepemilikan "waktu"nya. Untuk yang belum pernah nonton filmnya, "In Time" ini bercerita tentang masa depan, di mana waktu dianggap seperti uang. Dianggap sebagai alat pembayaran, bisa dipinjamkan dengan pengembalian ditambah bunganya, dijadikan taruhan, bisa dicuri. Yang membedakan adalah kepemilikan waktu itu selain sebagai kekayaan juga jadi penentu batas orang itu bisa hidup.


Orang kaya digambarkan jadi orang yang elegan dan tenang. Mereka punya cukup waktu untuk membeli semuanya dan tetap bertahan hidup. Mereka berjalan perlahan dan tidak pernah terburu-buru. Berlari adalah kegiatan orang miskin karena orang miskin harus selalu mencari waktu untuk bisa hidup esok harinya.

Menurutku, waktu adalah konsep yang paling misterius dalam perjalanan hidup manusia. Cuma waktu yang selalu disadari bahwa akan habis tanpa pernah tahu kapan. Cuma waktu yang tampak tidak punya batas. Tetapi siapa yang mengungkiri kalau batasnya jelas? Cuma waktu bisa menjawab semua pertanyaanmu sekaligus bisa menyimpannya rapat-rapat. 

Pesan dari "In Time" menurutku adalah jelas. Jangan buang-buang waktu. Jangan menunda. Jangan harap waktu bisa lebih ramah. 
"Waktu memang kadang tidak bersahabat dengan keinginan kita tapi kita tidak mungkin memintanya berjalan lebih lambat hanya agar kita bisa bersiap untuk jadi lebih kuat - Tentang Waktu"