Selasa, 23 Agustus 2011

Tuhan yang Mana?

Semalam, tanggal 22 Agustus 2011. Saya dan belasan teman yang lain mengadakan acara kumpul-kumpul. Sebenarnya acara kumpul-kumpul bersama teman ini sudah sering dilakukan hanya saja yang istimewa dari acara ini adalah untuk bersama bersyukur atas kesuksesan pameran yang diadakan oleh Wulang Sunu, Ramadhan Arif, dan Awigarda Grandisya dengan dibantu oleh teman-teman ini.

Pameran ini persembahan perdana dari tiga orang mahasiswa tahun pertama jurusan DKV di sebuah institute di selatan Jogja. Judul pamerannya adalah HEWANI. Karya-karyanya tentu tidak jauh dari tema pamerannya. Lukisan-lukisan dengan tema hewan, baik yang fiksi juga fakta

Ada satu kejadian yang menurut saya pribadi sangat membanggakan. Tepatnya saat makan malam. Sebelum makan malam kami semua berkumpul untuk berdoa dulu. Yang berbeda kali ini adalah teman-teman berasal dari berbagai kalangan. Laki-laki perempuan, dari universitas yang berbeda juga, dan agama yang berbeda.
Ini kutipan percakapan kami sebelum memulai berdoa

“Sopo sing mimpin doa?” (“siapa yang mimpin doa?”)
“Sea wae sea!” (“Sea aja Sea!”)
“kok aku to?” (“kok aku?”)
“yo rapopo, koe wae kan anak pendeta” (“ya gapapa, kamu kan anak Pendeta”)
 “yowes, doa wae dhewe-dhewe tak pimpin” (“Yaudah, doa aja sendiri-sendiri tak pimpin”)
“Aja! Doa bareng lah. Wong Tuhane yo podho kok. Tuhane siji” (“jangan! Doa bareng lah. Tuhannya sama kok. Tuhannya satu”)
“njuk pie nyebute? nganggo sing ndi?” (“trus nyebutnya gimana? pake yang mana?”)
“yo pokoke ojo nganggo Allah (Alloh), rasah nyebut Yesus. Tuhan wae. Universal” (“ya yang penting jangan pake Allah (Alloh), ga usah nyebut Yesus. Tuhan aja. Universal.”)

Maka dimulailah doa bersama kami, doa untuk bersyukur keberhasilan pameran, berdoa untuk kebersamaan, berdoa untuk bersatu dalam perbedaan.

Mungkin akan ada yang tidak suka dengan cara seperti itu. Tapi saya terus membayangkan alangkah indahnya kalau semua orang bisa saling menghargai, bisa bersama walaupun berbeda agama. Tuhan itu Maha Esa. Artinya kan tidak perlu harus diperdebatkan Tuhan mana yang benar, Tuhan itu satu. Hanya ada banyak jalan saja untuk menuju hikmah-Nya. Jadi menurut saya, bukannya kita harus menyatukan perbedaan, tapi akan lebih bermakna kalau kita bisa bersatu dalam perbedaan. 

"Kita satu teman, satu ciptaan Tuhan. Satu makhluk yang ‘kan berakhir pada kenihilan. Kita debu kawan di hadapan Tuhan. Marilah kembali kepada suatu kerendahan!" (Song For My God - BYRTH)


Rabu, 17 Agustus 2011

Cari Alasan Cinta Negeri Sendiri


Lagi tentang mencintai tanah air. Saya sedang berusaha mencari cara untuk bisa mendapatkan semakin banyak alasan untuk cinta Indonesia. Dan di hari ulang tahunnya ini saya ingin berbagi beberapa hal yang bisa membuat saya sadar betapa punya potensinya Negara ini, terutama dalam hal keseniannya.

2 video ini adalah lagu-lagu nasional yang mungkin dianggap using oleh sebagian besar orang (Indonesia Pusaka, Pancasila Rumah Kita), tapi ternyata lewat musisi-musisi Indonesia yang usang bisa jadi menyenangkan. Dari video ini saja, harusnya kita tahu bahwa masih banyak yang peduli dengan negerinya, tidak perlu selalu menyalahkan para pemimpin di sana, tidak perlu selalu menuntut mereka berbuat untuk rakyatnya. Bisa lah menurut saya, sebagai rakyat juga, untuk memupuk dulu rasa cinta itu. Cinta membuat agar segala daya dan upaya terlaksana tanpa menuntut balasan kan?





*ini linknya kalau misal videonya gagal Indonesia PusakaPancasila Rumah Kita

Merah Putih di Puncak Merapi

Hari ini tanggal 17 Agustus 2011. Biasanya saya tidak pernah tertarik dengan upacara bendera atau sekadar mengibarkan bendera di depan rumah. menurut saya, nasionalisme tidak selalu harus dipupuk dengan cara upacara, atau nasionalisme juga tidak hanya sekadar mengibarkan bendera di depan rumah tiap acara 17an. 

Berbeda dengan ulang tahun Tanah Air tercinta kali ini. Ajakan dari seorang teman untuk mengibarkan bendera Merah Putih di puncak Gunung Merapi sangat membuat saya tertarik. Saya belum pernah sekalipun pergi naik gunung, tentunya sebelum hari ini. Dan tawaran untuk membuat kali pertama naik gunung sambil merayakan hari ulang tahun negeri ini adalah hal yang sulit untuk ditolak. 

Mulailah saya mendaki Merapi bersama dengan 4 teman yang lain pada tanggal 16 Agustus siang menjelang sore hari. Pemandangan alam dari ketinggian adalah selalu membuat saya kagum. Kagum dengan keindahan dan takut dengan kekuatan alam (dan tentu takut ketinggiannya)

Jalan yang kami lalui kebanyakan adalah jalan setapak yang berbatu, yang menjadi agak berbeda adalah debunya yang sangat banyak, terlalu banyak bisa dibilang.  Karena memulai pendakian saat matahari masih bersinar cukup kuat, makanya kami cukup sering berhenti, sekadar ingin bersembunyi dari curahan sinar matahari.

Hari menjelang gelap dan kami memutuskan mendirikan tenda dekat gua batu, sesuai dengan saran teman yang belum lama yang lalu mendaki merapi juga. Hangat di dalam gua itu, tapi yang menyedihkan adalah orang yang memakai gua itu sebelum kami tidak membersihkan sampahnya. Masih berserakan bungkus kertas bekas nasi, bungkus mie instan, dll.  

Tepat di hari ulang taun kemerdekaan Negara ini, saya disuguhkan lagi lagi dengan keindahan alam Indonesia. Lepas dari segala berita tentang Indonesia yang tidak jauh-jauh dari korupsi, tawuran, berebut pengaruh, perkosaan, perusakan, dll. Jarang bisa merasa tambah cinta tanah air hanya dengan mengikuti berita dari mana pun.

Merenung di gunung membuat saya jadi lebih bisa mencintai negeri ini. Terlalu sering diberi pengetahuan tentang kebobrokan negeri tidak nyaman buat saya sendiri. Makanya, kan ada baiknya kalau bisa menggali sendiri bagian dari Indonesia yang bisa dicintai, bukan korupsi, bukan tawuran, dan bukan pemaksaan keseragaman.

Mengibarkan bendera Merah Putih di puncak merapi jadi puncak kegembiraan saya juga selama perjalanan dua hari ini. Melihat alam terbentang di bawah gunung rasanya saya ingin berusaha lebih menghargai lagi negeri yang sudah jadi tempat tumbuh dan berkembang saya selama ini. Melihat banyaknya lagi orang-orang yang masih bertujuan sama, mengibarkan Merah Putih di puncak Merapi, menunjukkan masih banyak juga yang ingin menggali sesuatu untuk mencintai negerinya ini.

Semoga saya semakin banyak menemukan alasan untuk makin cinta dengan Indonesia dan bisa ikut serta dalam perkembangannya menuju semakin baik. Dan saya yakin bisa!

17 Agustus 2011, Selamat Ulang Tahun Indonesia

puncak di belakang itu tujuaanya
The Team
udah deket tempat camp, hari 1
di camp, mau pulang, hari 2



Kamis, 04 Agustus 2011

Memanggil Semua Bertamasya


 “Nyiur melambai di tepi pantai. Menghias indah wajah Tanah Airku. Siulan burung di puncak bambu Berirama pujaan tumpah darahku. Sawah ladang luas Lenggang padi kuning berayun. Memanggil semua bertamasya. Memuja alam Indonesia. Sungguh indah pemandangan Tanah Airku”

Baru saja aku menyelesaikan perjalanan berwisataku bersama dengan 6 teman yang lain. Kali ini destinasi utamanya adalah Pulau Karimunjawa. Sebuah pulau kecil, 6 jam perjalanan laut dengan KM Muria dari Jepara.

Herzlich Willkommen

Perjalanan laut selama 6 jam menuju jepara serasa neraka menurutku. Gelombang yang besar, ditambah lagi kapal yang penuh sesak sehingga harus berada di atas kapal, di tengah terik matahari. Bukan suatu perjalanan yang cukup bisa dinikmati.

Wisata di Karimunjawa adalah wisata kepulauan, jadi banyak pulau kecil di sekitarnya yang memiliki pantai yang sangat indah. Laut di sekitar Karimunjawa juga bukan laut dalam, sehingga menjadi tempat yang cocok untuk ber-snorkling ria.

Sudah banyak cerita tentang keindahan Pulau Karimunjawa. Aku juga tidak menyangkal bahwa Karimunjawa adalah tempat yang indah. Sangat indah malahan. kalau ditanya orang, “gimana Karimun?” jawabanku seperti ini, “pantainya kayak pantai indah yang selalu kamu bayangkan. Pasir putih, laut biru dengan gradasi warnanya, pohon kelapa. Pokoknya kamu bayangkan aja pantai indah menurutmu gimana, nah itu Karimun.”

Karimunjawa punya spesies ikan yang cukup lengkap. Sepertinya itu karena ada pertemuan arus dingin dan panas di sekitarnya. Aku merasakan sendiri waktu snorkling di sekitar pulau tengah. Air laut yang dingin dan hangat bergantian mengalir menuju badanku. Karena pertemuan arus itu maka plankton, yang jadi makanan ikan banyak hidup di sana. Ikan hias yang biasanya hanya bisa dilihat dalam akuarium, sekarang aku pernah berenang di sebelahnya.

Aku tidak merasa cukup perlu menggambarkan eloknya alam di sana. Sepertinya juga kata-kata kurang bisa menggambarkan. Kalau kamu mau tahu keindahannya ada satu caranya, datanglah sendiri ke sana! Rasakan sensasi perjalanannya, cipratan air asin di ambang kapal, udara laut minim polusi, angin laut yang menggoyang nyiur, dan masih banyak lainnya.

Cocok dengan yang disampaikan dari peribahasa “berakit rakit ke hulu, berenang renang ketepia. Bersakit sakit  dahulu, bersenang senang kemudian.”  Setelah perjalanan yang sangat melelahkan, Karimunjawa seperti surga keindahan dunia. Warnanya, suasananya, auranya semuanya menyenangkan.

Satu hal yang aku sadari ketika melakukan perjalanan ini. Kekagumanku terhadap alam, antara terpesona dengan keindahannya dan takut akan kekuatannya. Lautan, gelombangnya menunjukkan gerak dinamis yang kamu juga pasti akan bisa menikmati keindahannya. Tapi ketika di dalam kapal dan terombang-ambing gelombang itu, kamu bisa merenung betapa mudahnya gelombang menggulung kapalmu itu.
Indonesia masih menyimpan kekayaan akan keindahan alam yang masih belum pernah aku singgahi. 

Karimunjawa seperti langkah pertama yang terus jadi dorongan buatku untuk menjelajah negeri ini. Semoga saja masih ada waktu dan masih ada kesempatan untuk jadi petualang. Menapaki setiap langkah di tempat baru, bertemu dengan orang dengan budayanya yang beragam, dan terus menambah kekaguman akan karya-Nya yang luar biasa indah yang jangan sampai dirusak oleh manusia.

Dan keindahan Karimunjawa memang memanggil semua untuk bertamasya.

*foto oleh : Benno Lintang Abhinawa, Diptya Lalita, dan saya sendiri

ini saya

biru sejauh mata memandang

Pulau Gosong. Luasnya 2m x 10m di tengah laut
main air

Bintang Laut merah di pasir putih

resort disewakan. Rp 500.000 per malam
mengembalikan alat sehabis bakar ikan di pantai

berenang di kolam hiu