Tampilkan postingan dengan label refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label refleksi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Agustus 2014

Pada Pahlawan


Beberapa tahun yang lalu, ketika masih duduk di bangku sekolah memakai seragam merah putih. Pelajaran kesenian, di tanggal menjelang perayaan ulang tahun kemerdekaan Indonesia. Biasanya kami disuruh oleh ibu guru mencari lagu wajib dan bergiliran menyanyikannya satu persatu di depan kelas untuk penilaian kesenian. Baru sekarang aku sadar, bukan hanya nada dan dinamika menyanyi yang dinilai bu guru di kelas. Asal aku berani maju ke depan kelas dan bernyanyi dengan percaya diri, ibu guru tidak akan terlalu menyoal sumbang tidaknya suaraku. Tapi untunya suaraku tak sumbang. 

‘Dengarlah dengar nyanyian mulia bagimu pahlawan kesuma bangsa’

Dulu aku juga masih bingung membedakan apa itu lagu wajib nasional dan apa itu lagu kebangsaan. Kata bu guru Indonesia Raya itu lagu kebangsaan, dan lagu seperti Indonesia Pusaka, Tanah Airku dan Padamu Negeri itu lagu wajib nasional. Bukankah lagu kebangsaan itu juga seharusnya jadi lagu wajib. Ah, aku juga masih bingung.

Aku tidak ingat betul, lagu apa yang aku nyanyikan di depan kelas saat diminta bu guru menyanyikan lagu wajib nasional. Apakah itu Garuda Pancasila atau Bendera Merah Putih aku sudah lupa. Tapi aku selalu ingat kalau aku ingin menyanyikan lagu yang belum dinyanyikan siapapun yang menyanyi sebelumku. Makanya, aku berusaha mengingat lebih banyak lagu dari temanku yang lain.
Ini lagu wajib nasional favoritku, lagu karya Cornel Simanjuntak yang liriknya ditulis oleh Usmar Ismail. Nada dasar C=Do, ketukan 4/4, temponya Di Marcia. Artinya, dinyanyikan dengan tegas, seperti lagu mars. Ikuti derap langkah kaki tentara berbaris, kata bu guru. Aku suka sekali lagu “Pada Pahlawan”. Membuat orang yang mendengar tambah bersemangat.

Semakin kemari, semakin tambah usia dan semakin bertambah jumlah buku yang aku baca, semakin bertambah pula orang yang kutemui untuk berdiskusi. Lalu aku mulai menyadari, kita ini, ah jangan sebut kita. Generalisasi tidak selalu bisa diterima. Aku di beberapa tahun yang lalu ini terlanjur terdidik dalam paradigma militeristik. Nama pahlawan nasional kebanyakan diawali dengan gelar kemiliteran dan kepahlawanan didapat melalu jalan perang. Jenderal, Brigadir Jenderal, Kapten, Marsekal, Laksamana tapi tidak Kamerad. Kalaupun tidak dari kalangan militer, pahlawan selalu diidentikkan dengan semangat yang menggebu dan bisa mengobarkan sekumpulan orang untuk mau berperang. Bung Karno, Bung Tomo.

Salah? Aku tidak bilang seperti itu. Benar? Aku tidak sedang bicara tentang salah dan benar. Memang negeri ini berdiri dari api perang dengan penjajah asing dan hingga sekarang masih ditempa dalam gelombang panas perang melawan penjajah yang makin tak tampak wujudnya.

‘Dengar derap langkah pahlawan, Menuju medan perang
Memanggil setiap putera, Ikut bela bangsa’

Betul memang, kita masih selalu dalam perang. Setiap waktu bahkan kita berperang. Perang bukan melulu tentang mengangkat senjata. Ini klise, tapi selalu tepat. Perang melawan diri sendiri adalah yang terberat. Kita perlu menderapkan langkah ketika menuju medan perang. Derap langkah yang berani dan percaya diri, seperti ketika maju ke depan kelas untuk menyanyikan lagu wajib nasional. Yang perlu dilakukan adalah menjadi pahlawan dalam perangnya masing masing. Aku tidak bicara tentang menjadi pemenang, tapi jadilah yang terbaik. Karena toh di pihak yang kalah pun ada pahlawan di antaranya.

               ‘karena kita adalah pahlawan masa kini, pahlawan yang sungguh nyata ada di sini
                Kekuatanku datang dari otak dan hati, kan kuberikan semua kepada negeri ini’

Pada pahlawan yang selalu berjuang dalam perangnya masing-masing menurutku ada dua hal yang masih perlu selalu diingat. Bela bangsa dan memberi pada negeri. Karena seperti kurang lengkap rasanya menjadi pahlawan tanpa memberi kontribusi bagi sekitarnya.

*Selamat ulang tahun ke 69, Indonesia.
Yogyakarta 16 Agustus 2014

Kamis, 15 Mei 2014

Separuh

Separuh wanita, separuh pria. Seorang wanita yang hidup “terjebak” di dalam raga pria. Mereka yang dianggap tabu dan dipandang menyimpang oleh lingkungan. Dijauhi secara sosial dan pandangan religius. Bahkan kadang keluarga pun tidak mau lagi menerimanya sebagai bagian di dalamnya. Belum lagi kesulitan mendapat kerja, baik di sektor formal maupun informal, itu yang membuat mereka kebanyakan menggantungkan nasibnya pada kerja-kerja yang lagi-lagi menjadi stereotype bagi tindakan menyimpang mereka. Tapi sadarkah kamu kalau mereka juga manusia, yang butuh makan, butuh teman, butuh ibadah? Mereka juga butuh merasakan cinta yang sama, dari keluarga, dari lingkungan pertemanan.

Di Thailand, banyak orang yang menjadi ladyboy. Melihat waria di sana adalah hal biasa, bahkan ada sekolah khusus bagi waria. Artinya bahwa kecenderungan menjadi seorang waria memang sudah terlihat dari awal, dan artinya juga di Thailand penerimaan mereka akan hal itu sudah sangat tinggi. Thailand adalah sebuah Negara kerajaan yang aktivitas religiusnya cukup tinggi. Tuhan dalam pandangan mereka adalah sempurna. Sempurna dalam arti segalanya. Tuhan tidak bisa hanya dipandang sekadar laki-laki atau perempuan. Tuhan lebih sempurna dari dua jenis kelamin tersebut. Tidak ada yang bisa menghakimi mana jenis kelamin yang benar dan belum tentu ada salah satu yang salah.

Menjadi seorang waria bukanlah pilihan, bukan juga penyakit. Kalau bisa memilih, sejak lahir mereka pasti akan memilih salah satu. Kalau itu penyakit, coba carikan dokter yang bisa menyembuhkannya. Mereka akan dengan senang hati menerima obatnya. Seperti yang dikatakan oleh Bu Maryani, seorang waria yang mendirikan pesantren khusus waria di sekitar Notoyudan.
Pesantren Waria ini adalah tanda harapan dari kaum waria. Harapan mereka untuk sebuah penerimaan. Penerimaan dari orang-orang sekitar. Penerimaan akan keberadaan dan keberibadahan waria. Bahwa waria juga punya hak yang sama dalah beribadah. Bahwa Tuhan menciptakan mereka sempurna juga adanya, tidak hanya separuh.

Para waria seperti yang sering berkegiatan di pesantren waria itu semacam dipaksa untuk terus hidup di lingkungan kota besar. Hampir tidak tersedia penerimaan yang cukup di lingkungan sekitar ketika mereka ingin tinggal di desa yang hubungan antarindividunya masih intim. Untuk itulah mereka berkutat di tengah kota besar, di mana mereka bisa “bersembunyi” dengan cara melebur dalam kehidupan kota yang semakin individualis. Pergi ke kota dan meninggalkan masa lalu mereka, di mana banyak orang yang mengenal mereka sebelumnya.

Tantangan generasi orang tua kita adalah tentang penerimaan keputusan yang berhubungan dengan masalah keyakinan. Orang tua dari anak muda di masa seperti ini masih banyak yang merasa keberatan ketika anaknya memutuskan untuk pindah agama, atau misalnya memilih pasangan yang tidak seiman. Sepertinya hal itu menjadi masalah besar bagi keluarga. Masalah besar bagi nama baik orang tua, bisa dianggap tidak berhasil mendidik anak sesuai ajaran agamanya.

Bisa jadi tantangan generasi muda saat ini di masa depan adalah menerima orientasi seksual anak kita kelak. Buatku, akan sangat sulit rasanya ketika anak lelakiku mendatangiku dengan perasaan cemas dan berkata, “Pak, aku gay”. Bisa jadi anakku akan melontarkan protes yang sama atas kekolotan orang tuanya dalam menerima keadaan. Bisa jadi, sangat mungkin.
“Bahwa Tuhan tidak pernah menghakimi, hanya manusia yang selalu berusaha menuhani manusia lain” – Bu Maryani

I Come Back Because I Love You

I travel because I have to. I come back because I love you.
Ini ceritaku beberapa tahun yang lalu. 2 Januari 2010, aku ingat betul, hari itu menjadi kesempatanku mengalami penerbangan internasional pertamaku. Transit pertama di bandara Changi, Singapura. Dalam benakku, bandara ini sangat bersih teratur dan sangat besar. Sekitar 2 jam aku menunggu penerbangan selanjutnya. Selanjutnya aku harus duduk tenang selama sekitar 14 jam penerbangan ke arah barat laut Indonesia. Lalu Frankfurt, dan kemudian sampailah aku dan 23 temanku ke kota tujuan. Berlin, Ibu Kota Jerman.
Converse kenangan
Sepatu Kenangan














Kali itu aku berkesempatan pergi ke Jerman, gratis. Aku berhasil lolos tes untuk mengikuti Winter Course, kelas belajar bahasa Jerman selama sebulan di Berlin. Bersama sekitar 60an orang dari 9 negara, kami semua belajar bersama, bermain bersama.

Satu bulan aku tinggal di Berlin, di sebuah rumah yang memang didesain menjadi semacam asrama. Ada ruang aula kecil, ruang makan bersama, ruang hiburan, bar mini dan kamar-kamar untuk tinggal.
Sebenarnya aku sedikit mengharapkan melihat warna-warna indah dari bunga-bunga yang tumbuh di Eropa. Aku berharap melihat pemandangan-pemandangan yang aku biasa lihat di televisi saja. Lewat layar lebar atau gambar-gambar di Google. Sedangkan yang aku dapat hanya warna putih bersih.

Tentu saja, karena aku datang di saat musim dingin. Saat salju turun dan semua orang memakai pakaian hingga lapis 5. Tapi aku tidak kecewa, mana mungkin aku bisa lihat salju turun di Indonesia. Harusnya aku bisa lebih bangga karena pernah menginjak salju licin yang hampir meleleh.

Rasanya menyenangkan bisa berkesempatan datang ke negeri yang jauh. Berkesempatan untuk belajar tentang Negara yang pernah menjadi Negara fasis itu. Waktu itu aku sempat datang ke sebuah tempat bernama Sachsenhausen. Berkunjung ke sana adalah salah satu peristiwa yang sampai sekarang aku masih ingat rasanya seperti apa. Suram, hitam, takut, gelap. Tempat itu adalah bekas Kamp Konsentrasi Nazi. Tempat di mana ratusan, mungkin ribuan orang Yahudi ditahan, diperintah kerja paksa, dan dibunuh. Tempat dan pemikiran akan Sachsenhausen waktu itu juga jadi bumbu dalam bahan penelitianku untuk tugas akhir kuliahku saat ini.
Bukan Ini
Bukan Ini


Sebenarnya dari semua pengalaman tersebut, momen di akhirlah yang membuatku paling merinding. Bukan pendaratan pertama di tanah Eropa. Bukan punya banyak teman dari seluruh penjuru dunia. Bukan datang mengunjungi KBRI di Berlin. Bukan makan sosis babi sepanjang 20cm. Tapi peristiwa pulang ke Indonesia.

Momen di saat aku melihat hijaunya sawah dan birunya laut dari atas pesawat, setelah satu bulan hanya putih salju saja sejauh mata memandang. Ini kepulangan pertamaku dari pergi jauh. Jadi dari mulai saat itu aku selalu ingin pergi jauh untuk kembali merasakan indahnya pulang.

Pulang menurutku bukan hanya sekadar kembali ke rumah, ke bangunannya. Pulang lebih merujuk pada kembali pada suatu situasi yang nyaman. Setiap orang punya “rumahnya” masing-masing. Setiap orang pasti rindu pulang. Paling sederhana, ketika kamu lelah berada di kampus. Bertemu dengan dosen killer, bertemu dengan teman berisik, bertemu dengan tumpukan tugas yang harus kamu kerjakan. Ketika kamu pulang ke rumah, ke kos atau mungkin bertemu dengan seseorang yang jadi “rumah” bagimu pasti ada rasa aman, nyaman, tenang.

Banyak orang bilang kalau kamu tidak akan merasa memiliki sesuatu sampai kamu kehilangannya. Itu benar. Tapi ketika kamu berhasil menemukan kembali hal yang hilang itu rasanya kamu akan terus menjaganya dengan sekuat tenagamu, dengan segenap hatimu, dengan seluruh jiwa dan ragamu.
Aku punya saran buatmu. Coba rasakan pergi jauh, dan renungkan saat kamu rindu. Buat dirimu kehilangan dulu, kehilangan rasa Indonesia, lalu temukanlah lagi. Rasakan saat kamu bisa pulang. Semacam ada letupan-letupan kegembiraan dalam dadamu yang ingin membuncah keluar. Terbang sebebas-bebasnya menelusuri seluruh bagian dari rumahmu.

Kepergianku sampai ke Jerman waktu itu betul menyadarkanku kalau I.N.D.O.N.E.S.I.A adalah rumah bagiku. Bahwa keindahan dan keteraturan yang ditawarkan oleh negara lain tidak akan mengurangi kebanggaanku pada tanah airku.  Tempat di mana tali pusarku ditanam, tempat di mana darah pertamaku teresap dalam tanah. Lengkap dengan bau hujan bertemu tanah dan laut biru luas membentang.
Pulau Sempu, Jawa Timur
Pulau Sempu, Jawa Timur
Museum Mandiri, Jakarta
Museum Mandiri, Jakarta
Laut Aru, Kaimana, Papua
Laut Aru, Kaimana, Papua Barat
Kaimana, Papua Barat
Senja Kaimana, Papua Barat
Stadion Triton, Kaimana, Papua Barat
Stadion Triton, Kaimana, Papua Barat
*Keterangan foto : Pulau Sempu oleh Wawan Kristianto, Stadion Triton oleh Jason Iskandar, sisanya oleh Suryo Hapsoro

Reduksi Rindu

“Makna rindu itu semakin tereduksi oleh keberadaan teknologi”

Kalimat ini aku tulis di draft blog diefolgerung.blogspot.com milikku sejak tanggal 3 Mei 2013. Belum sempat aku lanjutkan karena aku masih belum bisa menjelaskan dengan kalimat yang tepat apa maksud kalimat yang tiba-tiba muncul di pemikiran aku itu.

Ternyata beberapa minggu kemudian, bahasan dalam kelas sama dengan apa yang aku pikirkan tersebur. Keintiman dalam hubungan dengan siapapun mengalami transformasi karena adanya teknologi Diakui atau tidak, disadari atau tidak, memang itu kenyataannya.

Teknologi membuat semuanya dapat diketahui dengan cepat, sangat cepat malah. Aku bisa dengan cepat mengetahui apa yang terjadi di jauh sana apa yang sedang dikerjakannya. Aku bisa dengan mudah mengetahui kecelakaan di seberang laut sana. Rasanya semua menjadi semakin mudah, terlalu mudah bahkan. Mengetahui menjadi suatu hal yang jauh lebih mudah daripada beberapa dekade terakhir.

Bahkan sampai saya berpikir bahwa sepertinya tidak ada lagi waktu untuk merasa rindu. Terlalu cepat kabar bisa diketahui. Semakin tidak ada jarak yang bisa memunculkan rasa rindu itu.

Saya mengetahui satu cerita paling romantis yang pernah saya dengar. Ini kisah nyata, dan pelakunya masih hidup di negeri ini. Usianya sudah senja, tapi bisa memberikan inspirasi bagi kita yang masih akan terbit ini. Kisah ini dijadikan Papermoon Puppet Theater untuk menjadi ide cerita salah satu pertunjukannya setahun yang lalu. Judulnya “Setjangkir Kopi dari Plaja”. (Secangkir Kopi dari Playa)

Adalah sepasang kekasih, tinggal di Jakarta. Waktu itu tahun 1960. Si lelaki adalah salah satu dari 17 mahasiswa terbaik yang dipilih oleh Ir. Soekarno untuk diberi beasiswa belajar di Rusia, Uni Soviet waktu itu. Ia dibiayai untuk belajar metalurgi di Negara komunis itu. 5 tahun harus dijalaninya untuk belajar, tidak ada kesempatan untuk pulang di sela-selanya, karena belum semudah sekarang untuk berpindah tempat. Janjinya pada kekasihnya, “aku akan menikahimu sekembalinya aku belajar”. Keduanya berpisah dengan ketakutan akan rasa rindu.

Hampir lima tahun berselang, si lelaki sudah hampir saatnya bisa pulang. Ternyata pecahlah konflik G30S, yang katanya didalangi oleh Partai Komunis Indonesia. Konflik ini membuat hubungan Indonesia dengan Uni Soviet yang telah dibangun oleh Ir. Soekarno lewat NASAKOM-nya menjadi runtuh, seketika rusak. Si Lelaki tidak bisa pulang, passport-nya dicabut, tidak lagi dianggap sebagai warga Negara Indonesia, hanya karena ia belajar di Negara komunis (?)

Tidak ada handphone, tidak ada internet dengan facebook, twitter dan media jejaring sosial yang lainnya. Satu-satunya kesempatan bagi si lelaki untuk memberi kabar pada kekasihnya adalah dengan surat. Tapi hubungan kerja sama Indonesia dan Uni Soviet rusak. Jadi tidak ada lagi kesempatan itu. Tanpa sanak saudara dan keluarga, hanya dengan teman-teman, dan tanpa status kewarganegaraan.

Ia berjuang, dan mungkin sudah pasrah kalau memang sudah tidak lagi bisa pulang. Bertemu dengan seluruh keluarganya dan tentu saja kekasihnya yang sudah dijanjikan untuk menikah. Ia melanjutkan belajarnya hingga ia berpindah ke Kuba, Negara komunis yang lain. Tinggalah ia di sana, di sebuah kota bernama Playa. Ia menjadi ahli metalurgi, hingga diberi kewarganegaraan istimewa oleh Kuba, ia menjadi aset untuk Kuba. Padahal seharusnya ia bisa jadi aset berharga untuk negeri ini, itu hal yang sudah direncanakan oleh Soekarno waktu itu. Andai saja kejadian ’65 tidak seburuk itu.

Tiga puluh lima tahun lamanya ia tidak bisa memberi kabar pada semua yang ada di Indonesia. Sampai pada suatu waktu, Gusdur, yang menjadi Presiden kala itu mengetahui cerita tentang si lelaki dan beberapa teman yang lain, yang tidak bisa pulang. Dengan bantuan Presiden Gusdur itulah si lelaki bisa pulang. Satu orang yang paling ingin ditemuinya adalah kekasihnya. Ia masih ingat janji akan menikahi gadis yang dicintainya itu. Tiga puluh lima tahun si lelaki sama sekali tidak menikah, karena baginya janji harus ditepati. Ia mencari kabar tentang kekasihnya itu, mereka akhirnya bertemu dan ternyata kekasihnya sudah menikah dengan orang.

Aku tidak bisa membayangkan perasaan dua orang ini. Si lelaki yang bertahan bertahun lamanya untuk berusaha memenuhi janjinya, menikahi seorang gadis. Ternyata kekasihnya sudah tidak lagi sendiri. Kekasihnya juga pasti juga hancur perasaannya. Mengetahui kalau ternyata lelaki pujaannya berpuluh tahun lalu masih ingat dengan janjinya dan memenuhinya. Perempuan mana yang tidak tersanjung?

Pak Widodo dan Bu Widari. Keduanya masih hidup. Bu Widari tinggal di Jakarta bersama keluarganya. Sedangkan Pak Widodo kembali ke Kuba, karena di sana ia dibutuhkan.

Kisah cinta yang rasanya klise, tetapi aku merasakan jika kisah seperti ini tidak akan bisa terulang. Romantis dan kisah cinta yang lain akan muncul sesuai dengan tanda-tanda zaman yang memang juga berubah.

Andai saja internet sudah bisa diakses dengan mudahnya seperti saat ini, andai saja informasi yang bisa didapat oleh seseorang sudah dengan luasnya menyebar pasti Pak Widodo dan Bu Widari bisa saling memberi kabar. Mungkin Pak Widodo dan Bu Widari bisa menjadi pasangan suami istri. Mungkin kisah cinta mereka akan berlanjut menjadi lebih baik, tidak ada penyesalan. Tapi mungkin juga mereka akan pecah di tengah jalan. Mungkin saja janji Pak Widodo pada Bu Widari tidak akan bertahan selama ini. Siapa yang tahu?

Ketiadaan teknologi kala itu membuat janji anak muda itu bertahan selamanya, dan menjadi fenomenal karenanya. Ketiadaan teknologi juga yang membuktikan bahwa kekuatan janji tentu bisa mengalahkan waktu. Saat ini, kita terlalu cepat merasa curiga, terlalu mudah berasumsi. Rasa rindu menjadi sekadar tanpa kabar 12 jam, 7 jam, 53 menit, bahkan 3 menit. Tidak ada lagi rasa rindu yang terikat kuat di dalam hati. Jadi, sampai saat ini aku masih bisa percaya bahwa rindu terdalam itu memang menunggu yang tak kembali.

Senin, 12 Mei 2014

Tidak Semudah Seperti Seharusnya

Karena kita tidak bisa selalu hidup dalam kungkungan “seharusnya” karena selalu ada “senyatanya”.

Menjelang empat tahun aku menuntut ilmu di kampus, dan tiga tahun mengenal sedikit tentang sosiologi, baru sekarang kalimat ini terlintas dalam pikiranku. Das sollen und das sein. Padahal itu inti dari selama ini aku belajar. Bahwa harapan dan kenyataan selalu akan membuat selisih di antara. Jarak ini yang dinamakan utopia, spasi di mana kamu akan sadar tidak semua hal yang kamu anggap seharusnya bisa menjadi senyatanya dalam hidupmu.

Aku harusnya mengerti semua hal ini. Waktunya sudah cukup di kelas untuk memahami semua materi yang menjelaskan tentang jarak di antara keduanya. Akan tetapi memang ternyata ilmu itu tidak pernah cukup sebatas pertemuan di kelas dan materi di buku pedoman. Bahwa waktu dan pengalaman yang perlahan akan memberimu ujian untuk kamu dipaksa mengerti. Waktu dan pengalaman adalah sistem pendidikan paling bijak, bukan sistem yang diakhiri dengan Ujian Nasional. Mereka tidak pernah memberimu penilaian, sehingga kamu dengan bebas mengeksplorasi ilmumu sendiri. Mereka selalu bisa memaksamu belajar dengan sendirinya, bahkan tanpa membuatmu merasa terpaksa belajar. Mereka tidak memberikanmu penghargaan, tapi kamu akan tahu bahwa kamu berharga ketika selalu bisa memaknainya. Setiap orang punya standar kompetensinya sendiri, karena memang setiap orang adalah pribadi yang merdeka.
…
Aku sering masih terjebak dalam pemikiranku sendiri. Aku masih mengungkung diriku dalam belenggu “seharusnya”. Aku masih suka memaksakan diri dengan apa yang seharusnya aku lakukan, atau apa yang orang lain mau dari apa yang seharusnya aku harapkan. Aku sering lupa melihat juga “senyatanya” yang aku inginkan. Aku sering lupa juga apa yang “senyatanya” bisa terjadi. Parahnya, aku sering lupa dengan utopia yang dimiliki oleh masing-masing orang, tiap orang kan juga punya masalah dan utopianya sendiri yang kadang ingin aku campuri.

“Seharusnya” yang aku mau, selalu bertabrakan dengan “senyatanya” yang ada di sekelilingku. Kenyataannya, aku tidak selalu bisa bertahan dengan hanya berpikir tentang yang seharusnya aku dapatkan. Bukan untuk mengecilkan harapan dan memaklumi apa yang tidak aku dapatkan, tetapi lebih kepada untuk berusaha memahami bahwa hidup tidak semudah seperti seharusnya.

*masih dalam rangkaian pertanyaan "Wie sollten wir sein?". (Apa yang seharusnya kita capai?) 
13/5/2014

Selasa, 25 Maret 2014

Ulang Tahun


Hari ini ulang tahunku, sudah duapuluhdua ternyata.

Aku tumbuh dalam keluarga yang tidak punya tradisi untuk merayakan hari ulang tahun. “Ulang tahun bukan prestasi, nggak perlu dirayakan berlebihan,” aku ingat betul Bapak pernah berkata seperti itu di hari ulang tahunnya entah ke berapa, aku tidak terlalu ingat. Tetap dengan nada khas Bapak yang santai tapi tajam, mungkin tangannya masih menjepit sepuntung rokok dan mengenakan singlet kebesarannya menikmati hari luangnya. Jarang ada kado, jarang ada kue tart,

Dalam keluarga, kami merayakan ulang tahun dengan sangat sederhana. Nasi kuning, abon, kering tempe, telur dadar suwir dan bergedel serta ayam goreng kuning buatan Ibu yang paling kerap ada di atas meja makan ketika ada salah satu anggota keluarga yang berulang tahun. Itu pun aku sudah tidak terlalu ingat kapan terakhir kami berlima duduk bersama di meja makan, berdoa bersama lalu menyantap lahap nasi kuning dari koki rumah favorit kami sekeluarga.  

Kata-kata itu kemudian tetap tertanam di dalam pemikiranku. Terlalu kuat mungkin, sehingga kadang aku tidak terlalu peduli dengan hari ulang tahunku atau orang-orang di sekitarku. Itu salahnya. Mengucapkan ulang tahun jadi bentuk kepedulian seharusnya. Aku jadi tahu kalau banyak orang yang peduli. Dan bahagia rasanya dipedulikan. Tapi permasalahannya aku tidak terlalu suka dengan kepedulian lewat media social. Ah aku mulai berpikir terlalu banyak.

Ulang tahun bukan prestasi makanya tidak perlu dirayakan, tapi keluargaku bahkan ketika berprestasi pun, jarang kami merayakannya. Aku pulang ke rumah dengan membawa piala juara kelas, atau medali emas Kejuaraan Daerah Tae Kwon Do pun pelukan dan ucapan selamat yang tulus sudah jadi hadiah terindah buatku. Rasanya prestasi itu jadi kewajiban buatku karena sudah dipedulikan sedemikian hebat oleh orang-orang di sekitarku. Aku sadar bahwa prestasiku bukan hanya untukku. Prestasi itu jadi kebanggaan orang-orang terdekatku. Menyadari itu adalah hadiah terindah untukku.

Tapi bukannya kami tidak suka bersenang-senang. Kami merayakan sesuatu juga. Kami merayakan kehidupan. Caranya dengan terus berkarya dan selalu jadi yang terbaik. Celebrating life. Menikmati kehidupan, berpikir positif dan berusaha menyebarkan energi baik di lingkungan kami.
…
Bicara tentang duapuluhdua tahun yang lalu, menurutku, Ibu yang paling layak diberi ucapan selamat. Ibu yang meregang nyawanya untuk memberiku pelajaran baru. Ibu yang menahan sakit yang tidak pernah bisa aku bayangkan rasanya untuk kemudian merawatku sampai sekarang ini. Ibu yang terus tegar mengusahakan aku tetap bisa sekolah setelah Bapak dipanggil Tuhan. Sampai saat ini, aku masih merasa ini semua prestasinya
…
“26 Maret 1992, kulahir di bumi dengan tangisku yang pertama. Ia karuniakan nafasku penuh cinta, tuk mempersembahkan warna baru ke dunia. Ia sambutku mesra lewat keluarga. Bapak Ibu yang hebat dan dua kakakku juga. Tangan-tangan mereka yang bantuku terus berkarya bergaya dan berjaya dengan penuh rasa bangga.”

lirik lagu ciptaan kakakku yang pertama ini yang selalu mengingatkanku bahwa dalam setiap tindakanku, kesuksesanku selalu ada mereka, George Prasetya, Ami Kunhidayati, Kristoforus Aryo Bagaskoro, Reno Dwi Hapsari. Dua tahun belakangan ini selalu ada Acintya Indracara, dan mulai setahun yang lalu ada Tantra Anargya dan Tara Pradnyaparamita. Tidak lupa juga ada Yudhistira Setya Utama dan Diana Mandasari. Terimakasih ya sudah selalu ada selama ini :*

*terimakasih atas semua dukungan, kepedulian, ucapan, doa, harapan dan pisuhan di hari ini. Semoga semua itu jadi semangatku dalam berkarya bagi kemuliaan Tuhan yang semakin besar.

Minggu, 02 Maret 2014

Kesusahan Sehari Cukuplah untuk Sehari



Sore ini, seperti Minggu sore biasanya. Aku pergi ke gereja. Hari Minggu harinya Tuhan, katanya. Hari libur universal, bahkan katanya Tuhan pun beristirahat di hari yang ketujuh ketika Ia menciptakan dunia dan segala isinya. 

Duduk di sebuah bangku, diam, tanpa aktivitas, bernyanyi, kadang terkantuk. Bertemu dengan teman, berbincang kecil, mungkin dilanjutkan dengan makan malam santai yang akrab. Dan memang ritual keagamaan diakui atau tidak, sudah berubah fungsinya. Bukan lagi sekadar menjaga relasi vertikal saja, tapi juga relasi horizontal, antar manusianya.  

Tidak jarang juga pencerahan didapat dari proses ritual itu. Sabda-Nya, yang memang jadi salah satu inti ritual selalu bisa memberi arti. Kalimat-kalimat yang tertulis dalam buku best seller sepanjang masa itu betul punya kekuatan tersendiri, kalau kamu percaya. 

Beberapa waktu lalu aku pernah merasa terlalu khawatir dengan apa yang harus aku lakukan yang bahkan belum aku sampai di sana. Tentang masa gelap yang harus aku lalui, tentang mencari terang dan berusaha menggunakannya untuk menjadi berkah bagi yang lainnya. Kali ini, lagi-lagi ayat berusia ribuan tahun itu bisa, walaupun tidak menjawab, menenangkan kekhawatiranku:

"Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan  oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?  Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?  
Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun  tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi jika demikian Allah mendandani  rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah  dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari." (Matius 6: 25-34)

Sore ini, seperti Minggu sore yang sudah-sudah. Aku duduk di gereja. Kadang memang bukan berdoa tujuan utamanya. Karena toh berdoa bisa di mana pun, kapan pun. Buat beberapa orang bahkan pada (si)apa pun. Pergi ke gereja buatku lebih pada proses mensyukuri, menyesali dan merenungi tentang apa yang sudah aku lakukan selama seminggu. 

Berhenti setelah bekerja sepanjang waktu memberiku kesempatan untuk mengevaluasi dan menghargai jarak yang sudah aku tempuh dan kecepatan yang sudah aku capai. Sama seperti yang Tuhan lakukan juga, beristirahat sejenak. Di Gereja, duduk menenangkan diri membuatku bisa melihat lebih jelas apa yang sudah aku kerjakan. Menyadari kesusahan-kesusahan yang sudah berhasil aku lalui. Kesusahan yang sudah tidak lagi menjadi kesusahan ketika sudah dilalui. Karena kesusahan sehari cukuplah untuk sehari. Dan kadang, jawaban atas kesusahan hidupmu hanya sesederhana, "jangan khawatir".