Sabtu, 13 April 2013

Pelajaran Tentang Belajar

Menyaksikan pagelaran wayang memang sudah bukan menjadi hal yang populer bagi anak muda di tahun 2013 ini. Bahkan kesannya sangat ketinggalan zaman dan usang. Datang ke pagelaran wayang kulit dan memang saya menemukan kalau sebagian besar penontonnya adalah bapak-bapak, sedikit ibu-ibu yang membawa anaknya usia SD, dan lebih sedikit lagi anak muda.

Keterbatasan pengertian bahasa untuk mengerti alur cerita membuat saya menikmati pagelaran wayang kulit dengan bertukar cerita dengan teman-teman diiringi alunan  satu set lengkap gamelan Jawa.

Kira-kira ini isi pembicaraan kami :

Dimulai dengan mencari alasan mengapa wayang kulit sudah semakin tidak diminati oleh orang seusia kami yang lahir sekitar awal tahun 90an. Menurut kami, pertama-tama, adalah kesulitan bahasa. Dalam pertunjukan wayang kulit yang tradisional, sesuai pakem, bahasa yang digunakan adalah Bahasa Jawa kuno yang masih tercampur dengan Sansekerta. Bahasa tersebut bisa terdengar sangat asing bagi telinga orang-orang "modern" saat ini. Nyatanya sudah ada pagelaran wayang kulit yang menggunakan Bahasa Jawa yang biasa digunakan sehari-hari, tetapi penikmat pertunjukannya tetap bukan anak muda.
Minat mungkin bisa menjelaskan. Kurangnya minat anak muda mengenal wayang membuat hal itu menjadi tidak lagi menarik untuk dipelajari. Nyatanya, saya sangat berminat dengan wayang tetapi baru sekali ini "sempat" datang menyaksikan langsung. Sampai kami pada pemikiran kalau bisa jadi kegiatan belajar di kuliah adalah salah satu yang jadi penghambat minat anak muda pada wayang.

Wayang selalu digelar pada waktu malam hari. Tujuannya, pada zaman dulu adalah untuk mengisi waktu luang orang-orang. Tetapi apakah waktu luang itu benar-benar nyata untuk mahasiswa saat ini? Banyak dari teman saya dan mungkin saya sendiri sering menghabiskan malam dengan tugas. Tugas untuk mendapat sekadar nilai A, B, C atau sialnya D. Tentu pendapat ini di luar dari kalahnya pamor wayang sebagai pengisi waktu luang dibanding game online, mall dan cafe yang sudah menjadi stadar gaul anak muda sekarang.
Tetapi memang, bagi saya, tugas-tugas dan tuntutan dari sistem edukasi yang ada sekarang menjadi semakin membatasi, minat anak muda mengeksplorasi hal selain buku materi panduan belajarnya.

Padahal dalam cerita wayang selalu ada pembelajaran yang sangat baik tentang kehidupan. Setiap tokoh dalam cerita wayang selalu punya kelebihan dan kekurangan. Tokoh-tokohnya adalah gambaran nyata tentang manusia dan dengan tafsir tertentu menjelaskan hubungannya dengan Tuhan. Tidak pernah ada sosok sempurna dalam pewayangan. Arjuna misalnya, ia adalah sosok ksatria yang sangat kuat, tampan, dan menjadi salah satu tokoh Pandawa yang paling sakti. Tetapi ia juga seorang playboy. Nafsunya terhadap perempuan sangat besar. Rahwana, raksasa yang lahir dan menjadi gambaran tentang segala nafsu duniawi yang bisa dimiliki manusia. Tetapi ia adalah sosok yang sangat bisa menghargai Dewi Sinta. Rahwana tidak pernah menyentuh Dewi Sinta tanpa izin darinya, ia melawan segala nafsunya untuk berusaha mendapatkan hati sang Dewi.

Buat saya, kadang cerita wayang bisa mengajarkan lebih banyak daripada ajaran agama. Cerita wayang adalah cerita yang butuh penafsiran ulang untuk dapat memahami pesannya. Kelebihannya dari ajaran agama adalah tidak ada pihak yang terlegitimasi untuk 'memaksakan' tafsir tentang cerita wayang. Saya bisa saja menyatakan kalau para dewa berlaku curang dengan menggagalkan Sastra Jendra Resi Wisrawa dengan Dewi Sukesi sehingga lahirlah Rahwana dan adik-adik jahatnya. Tetapi menjadi sulit bagi saya jika saya menyatakan kalau Tuhan pun bisa tidak sempurna.

Seharusnya dengan wayang, manusia bisa belajar banyak hal. Saya mendapat pelajaran dengan bebas membuat tafsir tentang pesan moral dari cerita pewayangan dengan tidak ada seorang pun yang berhak menyatakan kalau tafsir saya salah. Masalah tafsir bisa jadi sangat sensitif bagi ajaran agama. Perbedaan tafsir atas satu atau beberapa ayat bisa menjadi alasan yang dibenarkan untuk mencabut nyawa seseorang. Perbedaan tafsir bisa jadi pemecah perang bagi beberapa negara tanpa pernah diketahui penyelesaiannya.

Tidak sesederhana ini perbincangan 6 jam tadi malam. Tapi pada akhir malam menjelang pagi itu saya mendapat banyak hal baru. Pelajaran tentang belajar, belajar bukan hanya sekadar kuliah menyiapkan masa depan, belajar dengan melihat ke masa lalu menghargai karya kebudayaan, dan belajar tentang kehidupan.

Wayang Kulit

Tadi malam adalah kali pertama saya datang dan menyaksikan langsung pagelaran wayang kulit tradisional. Saya bersama 5 teman yang lain berangkat menuju Pendopo Museum Diponegoro. Ayah dari salah satu sahabat saya adalah seorang dalang, cukup kondang, kata anaknya. Saya jelas tidak mengerti ukuran keterkenalan seorang dalang itu sebatas apa. Hal yang pasti oleh pribadi seumuran saya juga merupakan ukuran yang asing. Paling-paling dalang paling dikenal adalah Ki Manteb dengan "Pancen Oye"-nya.

Ki Mas Lurah Cermo Radyo Harsono adalah sang dalang, ayah Richo, teman saya itu. Ia adalah seorang Tionghoa. Bukan bermaksud SARA, hanya saja memang bias etnis itu sudah sangat jelas terlihat sekarang.

Cerita lakonnya berjudul "Sekar Kanyiri Salaga", sebuah lakon yang baru pertama kali itu digelar. Alur ceritanya? Saya sendiri tidak mengerti karena bahasa yang digunakan oleh Ki Radyo Harsono, sebagai dalang tradisional, adalah Bahasa Jawa kuno yang masih tercampur dengan Sansekerta. Tapi bukannya saya tidak bisa menikmati wayangan itu.

Sepanjang pagelaran saya berhasil dibuat sangat takjub. Melihat Ki Dalang yang tidak menghadap teks apapun, dalam pikiran saya bagaimana bisa ia semalam suntuk menceritakan satu lakon lengkap dengan dialog dan penghayatan dan perubahan suara pada tiap dialog tokohnya. Mendapat cerita dari Richo bahwa baru semalam sebelumnya ayahnya diberi bahan untuk memainkan lakon "Sekar Kanyiri Salaga" itu, logika saya tentang latihan untuk menyiapkan pertunjukan langsung rusak. Mendengar dialog antar tokoh sekaligus menyadari  ketiadaan teks itu membuat saya berpikir kalau seorang dalang adalah freestyle rapper terhebat. Bukan para kulit hitam yang tinggal di Bronx sana.

Sebagai orang yang mengaku Jawa, saya merasa sedikit malu, kenapa baru sekarang setelah 21 tahun saya datang langsung menyaksikan pagelaran Wayang Kulit seperti ini. Nama saya bahasa Jawa, saya menghabiskan sebagian besar usia saya sekarang di satu-satunya Kerajaan Jawa yang diakui sebagai Provinsi di Indonesia, saya berbicara dengan teman-teman dengan fasih berbahasa Jawa, tetapi baru kali ini datang ke pertunjukan Wayang Kulit. Semacam merasa kurang "gaul".

Dalam waktu 6 jam, banyak sekali perbincangan menarik terjadi antara saya dan teman-teman saya tentang wayang, budaya Jawa, dan anak muda. Dalam waktu 6 jam pula saya merasa mendapat sangat banyak pengatahuan dan masukan baru untuk otak saya ini. Pada akhir malam menjelang pagi itu, saya berjanji pada diri saya sendiri kalau kedatangan untuk wayang kulit ini bukan jadi yang terakhir untuk saya.

Senin, 18 Februari 2013

Tentang Waktu (2)

Nonton Film "In Time" ini selalu bikin nggak tenang. Kebayang beneran kalo hidup orang tergantung sama kepemilikan "waktu"nya. Untuk yang belum pernah nonton filmnya, "In Time" ini bercerita tentang masa depan, di mana waktu dianggap seperti uang. Dianggap sebagai alat pembayaran, bisa dipinjamkan dengan pengembalian ditambah bunganya, dijadikan taruhan, bisa dicuri. Yang membedakan adalah kepemilikan waktu itu selain sebagai kekayaan juga jadi penentu batas orang itu bisa hidup.


Orang kaya digambarkan jadi orang yang elegan dan tenang. Mereka punya cukup waktu untuk membeli semuanya dan tetap bertahan hidup. Mereka berjalan perlahan dan tidak pernah terburu-buru. Berlari adalah kegiatan orang miskin karena orang miskin harus selalu mencari waktu untuk bisa hidup esok harinya.

Menurutku, waktu adalah konsep yang paling misterius dalam perjalanan hidup manusia. Cuma waktu yang selalu disadari bahwa akan habis tanpa pernah tahu kapan. Cuma waktu yang tampak tidak punya batas. Tetapi siapa yang mengungkiri kalau batasnya jelas? Cuma waktu bisa menjawab semua pertanyaanmu sekaligus bisa menyimpannya rapat-rapat. 

Pesan dari "In Time" menurutku adalah jelas. Jangan buang-buang waktu. Jangan menunda. Jangan harap waktu bisa lebih ramah. 
"Waktu memang kadang tidak bersahabat dengan keinginan kita tapi kita tidak mungkin memintanya berjalan lebih lambat hanya agar kita bisa bersiap untuk jadi lebih kuat - Tentang Waktu"