Rabu, 17 Agustus 2011

Merah Putih di Puncak Merapi

Hari ini tanggal 17 Agustus 2011. Biasanya saya tidak pernah tertarik dengan upacara bendera atau sekadar mengibarkan bendera di depan rumah. menurut saya, nasionalisme tidak selalu harus dipupuk dengan cara upacara, atau nasionalisme juga tidak hanya sekadar mengibarkan bendera di depan rumah tiap acara 17an. 

Berbeda dengan ulang tahun Tanah Air tercinta kali ini. Ajakan dari seorang teman untuk mengibarkan bendera Merah Putih di puncak Gunung Merapi sangat membuat saya tertarik. Saya belum pernah sekalipun pergi naik gunung, tentunya sebelum hari ini. Dan tawaran untuk membuat kali pertama naik gunung sambil merayakan hari ulang tahun negeri ini adalah hal yang sulit untuk ditolak. 

Mulailah saya mendaki Merapi bersama dengan 4 teman yang lain pada tanggal 16 Agustus siang menjelang sore hari. Pemandangan alam dari ketinggian adalah selalu membuat saya kagum. Kagum dengan keindahan dan takut dengan kekuatan alam (dan tentu takut ketinggiannya)

Jalan yang kami lalui kebanyakan adalah jalan setapak yang berbatu, yang menjadi agak berbeda adalah debunya yang sangat banyak, terlalu banyak bisa dibilang.  Karena memulai pendakian saat matahari masih bersinar cukup kuat, makanya kami cukup sering berhenti, sekadar ingin bersembunyi dari curahan sinar matahari.

Hari menjelang gelap dan kami memutuskan mendirikan tenda dekat gua batu, sesuai dengan saran teman yang belum lama yang lalu mendaki merapi juga. Hangat di dalam gua itu, tapi yang menyedihkan adalah orang yang memakai gua itu sebelum kami tidak membersihkan sampahnya. Masih berserakan bungkus kertas bekas nasi, bungkus mie instan, dll.  

Tepat di hari ulang taun kemerdekaan Negara ini, saya disuguhkan lagi lagi dengan keindahan alam Indonesia. Lepas dari segala berita tentang Indonesia yang tidak jauh-jauh dari korupsi, tawuran, berebut pengaruh, perkosaan, perusakan, dll. Jarang bisa merasa tambah cinta tanah air hanya dengan mengikuti berita dari mana pun.

Merenung di gunung membuat saya jadi lebih bisa mencintai negeri ini. Terlalu sering diberi pengetahuan tentang kebobrokan negeri tidak nyaman buat saya sendiri. Makanya, kan ada baiknya kalau bisa menggali sendiri bagian dari Indonesia yang bisa dicintai, bukan korupsi, bukan tawuran, dan bukan pemaksaan keseragaman.

Mengibarkan bendera Merah Putih di puncak merapi jadi puncak kegembiraan saya juga selama perjalanan dua hari ini. Melihat alam terbentang di bawah gunung rasanya saya ingin berusaha lebih menghargai lagi negeri yang sudah jadi tempat tumbuh dan berkembang saya selama ini. Melihat banyaknya lagi orang-orang yang masih bertujuan sama, mengibarkan Merah Putih di puncak Merapi, menunjukkan masih banyak juga yang ingin menggali sesuatu untuk mencintai negerinya ini.

Semoga saya semakin banyak menemukan alasan untuk makin cinta dengan Indonesia dan bisa ikut serta dalam perkembangannya menuju semakin baik. Dan saya yakin bisa!

17 Agustus 2011, Selamat Ulang Tahun Indonesia

puncak di belakang itu tujuaanya
The Team
udah deket tempat camp, hari 1
di camp, mau pulang, hari 2



Kamis, 04 Agustus 2011

Memanggil Semua Bertamasya


 “Nyiur melambai di tepi pantai. Menghias indah wajah Tanah Airku. Siulan burung di puncak bambu Berirama pujaan tumpah darahku. Sawah ladang luas Lenggang padi kuning berayun. Memanggil semua bertamasya. Memuja alam Indonesia. Sungguh indah pemandangan Tanah Airku”

Baru saja aku menyelesaikan perjalanan berwisataku bersama dengan 6 teman yang lain. Kali ini destinasi utamanya adalah Pulau Karimunjawa. Sebuah pulau kecil, 6 jam perjalanan laut dengan KM Muria dari Jepara.

Herzlich Willkommen

Perjalanan laut selama 6 jam menuju jepara serasa neraka menurutku. Gelombang yang besar, ditambah lagi kapal yang penuh sesak sehingga harus berada di atas kapal, di tengah terik matahari. Bukan suatu perjalanan yang cukup bisa dinikmati.

Wisata di Karimunjawa adalah wisata kepulauan, jadi banyak pulau kecil di sekitarnya yang memiliki pantai yang sangat indah. Laut di sekitar Karimunjawa juga bukan laut dalam, sehingga menjadi tempat yang cocok untuk ber-snorkling ria.

Sudah banyak cerita tentang keindahan Pulau Karimunjawa. Aku juga tidak menyangkal bahwa Karimunjawa adalah tempat yang indah. Sangat indah malahan. kalau ditanya orang, “gimana Karimun?” jawabanku seperti ini, “pantainya kayak pantai indah yang selalu kamu bayangkan. Pasir putih, laut biru dengan gradasi warnanya, pohon kelapa. Pokoknya kamu bayangkan aja pantai indah menurutmu gimana, nah itu Karimun.”

Karimunjawa punya spesies ikan yang cukup lengkap. Sepertinya itu karena ada pertemuan arus dingin dan panas di sekitarnya. Aku merasakan sendiri waktu snorkling di sekitar pulau tengah. Air laut yang dingin dan hangat bergantian mengalir menuju badanku. Karena pertemuan arus itu maka plankton, yang jadi makanan ikan banyak hidup di sana. Ikan hias yang biasanya hanya bisa dilihat dalam akuarium, sekarang aku pernah berenang di sebelahnya.

Aku tidak merasa cukup perlu menggambarkan eloknya alam di sana. Sepertinya juga kata-kata kurang bisa menggambarkan. Kalau kamu mau tahu keindahannya ada satu caranya, datanglah sendiri ke sana! Rasakan sensasi perjalanannya, cipratan air asin di ambang kapal, udara laut minim polusi, angin laut yang menggoyang nyiur, dan masih banyak lainnya.

Cocok dengan yang disampaikan dari peribahasa “berakit rakit ke hulu, berenang renang ketepia. Bersakit sakit  dahulu, bersenang senang kemudian.”  Setelah perjalanan yang sangat melelahkan, Karimunjawa seperti surga keindahan dunia. Warnanya, suasananya, auranya semuanya menyenangkan.

Satu hal yang aku sadari ketika melakukan perjalanan ini. Kekagumanku terhadap alam, antara terpesona dengan keindahannya dan takut akan kekuatannya. Lautan, gelombangnya menunjukkan gerak dinamis yang kamu juga pasti akan bisa menikmati keindahannya. Tapi ketika di dalam kapal dan terombang-ambing gelombang itu, kamu bisa merenung betapa mudahnya gelombang menggulung kapalmu itu.
Indonesia masih menyimpan kekayaan akan keindahan alam yang masih belum pernah aku singgahi. 

Karimunjawa seperti langkah pertama yang terus jadi dorongan buatku untuk menjelajah negeri ini. Semoga saja masih ada waktu dan masih ada kesempatan untuk jadi petualang. Menapaki setiap langkah di tempat baru, bertemu dengan orang dengan budayanya yang beragam, dan terus menambah kekaguman akan karya-Nya yang luar biasa indah yang jangan sampai dirusak oleh manusia.

Dan keindahan Karimunjawa memang memanggil semua untuk bertamasya.

*foto oleh : Benno Lintang Abhinawa, Diptya Lalita, dan saya sendiri

ini saya

biru sejauh mata memandang

Pulau Gosong. Luasnya 2m x 10m di tengah laut
main air

Bintang Laut merah di pasir putih

resort disewakan. Rp 500.000 per malam
mengembalikan alat sehabis bakar ikan di pantai

berenang di kolam hiu









Jumat, 01 Juli 2011

Menunggu yang Tak Kembali

2 Juli 2006
Saat itu, hari itu, siang itu, hampir sampai saat ini hanya ada satu pertanyaan dalam benakku sendiri. "kenapa harus sekarang?"
Pertanyaan yang terus saja berulang dan terngiang dalam setiap kerinduan. Kenapa harus sekarang? Ketika aku baru berumur 14 tahun. Waktu yang belum cukup lama untuk bisa mengenal seorang Bapak. Kenapa harus sekarang? Ketika bahkan aku belum sampai ke puncak, saat aku belum memulai mengenal dewasa.

Tapi ternyata tanggal itu dan seterusnya mengajarkan aku lebih banyak hal, jauh dari apa yang bisa kamu bayangkan. Waktu, kala itu menunjukkan padaku secara nyata untuk menjadi lebih kuat. Mungkin kamu jarang melihatku sedih, tapi itu bukannya aku tidak punya perasaan. Aku sudah pernah ditampar suatu kesedihan yang mungkin kamu belum mengalaminya sehingga hampir setiap masalah setelahnya tidak cukup membuatku bisa jatuh lagii.

Dan kuberitahukan kepadamu, aku mulai bisa menemukan jawaban pertanyaanku itu. Waktu, memberikanku kesempatan untuk bisa jadi lebih hebat dengan caraku sendiri. Segala tekanan dan tarikan keadaan membentukku jadi aku yang sekarang tanpa raganya di sisi, tapi selalu dengan semangatnya. Semangatnya tidak akan pernah mati seperti juga cinta kami padanya. Semangatnya cukup membuatku menjadi seperti ini, dan coba kamu bayangkan betapa hebatnya dia hanya dengan semangatnya.

2 Juli 2011
Kalau ditanya apakah aku rindu? Jelas sangat rindu. Sering terbayang secara sederhana tentang liburan bersama. Sekadar bertamasya mengendarai mobil ke pantai seperti waktu itu. Dari situ aku bisa mendefinisikan rindu. Rindu itu adalah menunggu yang tak kembali

2 Juli 2006 - 2 Juli 2011
didedikasikan untuk Bapak George Prasetya